Monday, March 11, 2013

Cerbung: Perempuan Setengah Hati 12

Oleh: Mulyadi Saputra (Moel)


Bagian 12
Tak Pandang Bulu
Yadi adalah teman lama Ivan. Mereka berteman dari SMA namun mereka akhir-akhir ini jarang bertemu dan komunikasipun terlihat jarang. Saat Ivan pergi kesebuah taman di Bogor mereka bertemu dan saling menanyakan kabar. Saling canda. Keakraban kembali terjalin sebagaimana dulu sewaktu di SMA. Yadi ditemani seorang perempuan. Pacarnya. Ivan tak sengaja di sana ia hanya menghadiri acara keluarga. Kebetulan lokasi yang ditempatkan di Bogor.
Ivan diperkenalkan dengan pacar Yadi. Tubuhnya sangat menggoda sekali. Tinggi, putih dan rambutnya lurus panjang. Ivan menebar senyum padanya.

“Kuliah di mana...?” Ivan memulai pembicaraan. Perempuan itu tersenyum lugu. Ia tak menjawab. Yadi langsung bercerita tentang keakraban mereka dulu.
Perempuan itu namanya Emma. Sepertinya ia juga menaruh perhatian pada Ivan. Waktu tak berpihak pada mereka. Yadi pergi membeli minuman.
“Boleh minta nomor kontak kamu...?” pinta Emma, saat kesempatan menyerang.   
“Dengan senang hati ...” senyumpun menebar diantara insan yang sedang mencari celah di benak. Tak lama Yadi duduk di sana Ivan pun di panggil oleh Ayahnya. Ivan pulang.
Saat senja menantang di utuk barat, satu SMS masuk.

From : Emma             17:57:25            
Hi Van...udh smpai rmh blm..? capek ya...?
sama ak jg capek.Ak baru smpai rmh nih... km udh
mkan blm...? blz
Ivan senyum-senyum sendiri membaca SMS itu dengan penuh pesona Ivan membalasnya,

            To : Emma               17:59:41                 
Udh dr tdi...klu cpek sih lmayan. Msih sma Yadi ga..? gw lom mkan, bareng yuk....he..he...he..lo udh mkn lom..? LeZ

“sent”
Mereka terus bergelut dalam layar ponsel. Emma pun tak segan untuk bercerita tentang hubungan mereka dengan Yadi. diancam kehancuran. Sekalipun Ivan tak biasa curhat namun ia sangat menghargai curhatan-curhatan teman. “Apasih susahnya mendengarkan omongan orang.” Ia selalu berkata saat ia sendiri sadar kalau banyak sekali orang yang curhat padanya.
Ia juga mengirimkan seutas cinta yang kecil lewat SMS. Emma juga meresponnya dengan begitu semangat. Mereka mengatur waktu untuk bisa ngobrol langsung. Emma janji akan datang kekampus Ivan pada waktu senggang nanti.
Ivan saat ini kosong. Hatinya hanya panas pada pertanyaan seseorang saat diskusi tempo hari. Seperti terus terniang-niang dalam kupingnya. “Tulisannya udah sering di muat di media...Mas...  ?” itulah yang membuat ia terus berusaha berperang di depan laptopnya. Tak perduli ia sedang capek sekalipun.
****
Rabu sore dengan gemericik hujan dan sorot matahari yang begitu menyengat. Kata orang dulu “Kalau panas campur gerimis banyak penyakit yang turun dari langit.” Namun kelas yang berisi 34 mahasiswa itu terus ramai dengan debat dan diskusi.

From : Emma             14:54:07 
Van km kul ga...? ak ke kps km ya... blz

Seketika Ivan tercengang dahsyat.

            To : Emma               14:56:15
     gw lg kul. Jam 4 slsai. Gw tggu...ok

     “Sent”
Ivan dengan singkat sekali menjawab. Ia sedang sibuk meladeni seorang penanya yang terbelit-belit. Membuat ia sedikit emosi.
            Gugun tersenyum melihat Ivan begitu gemas menghadapi pertanyaan-pertanyaan. Ia juga mencoba mengganggu konsentrasi Ivan saat itu. Ia menanyakan sesuatu hal yang keluar dari pokok bahasan. Semakin gereget.
            Setelah perkuliahan selesai ia mencoba SMS kembali Emma.

            To : Emma          16:02:53
     Kesini aja gw tggu. Di dpan kmps gw. Pintu gerbang.
    
     “Sent”
Ivan juga mengharapkan kehadiran Emma. Dasar buaya.
            Tak lama mobil warna biru dongker masuk dengan nomor polisi D 1403 CW  masuk pintu gerbang. Klakson berbunyi seperti memanggilnya. Kaca mobilpun terbuka, didalamnya seorang perempuan cantik yang ia tunggu. Memakai baju hitam dan celana jeans di atas lutut. Begitu cantik dengan hias paha yang putih.
            “Van...” sapa Emma dengan riang. Lambaian tangannya menggoda Ivan untuk segra mendekatinya.
            “Eh,...nyampek juga ternyata.” Senyum Emma menjawab seluruh pertanyaannya seketika. Heni lewat tanpa sapa namun terlihat jelas kepedihan hatinya.
            “Siapa itu..kok serem gitu mandangin aku.” Emma keluar sambil menanyakan sesuatu yang tidak penting padanya. Ia menggelengkan kepala pura-pura tidak kenal. Hatinya tidak bisa berdusta kalau Heni adalah kekasih gelapnya dulu.
            Mereka berdua larut dengan obrolan diatas mobil. Berulang-ulang kali Ivan menyulut rokoknya. Emma bercerita lagi kalau Hubungan mereka udah putus hanya karena salah paham saja.
****
            Satu jam mereka duduk di sana. Sekarang mereka berdua masuk dalam mobil dan meluncur laju ke arah kafe di kawasan pusat kota. Suasana keramaian menyerbu lampu lilin menyertai mereka. Sangat romantis sekali saat itu, cahayanya remang-remang sangat menuntut mereka untuk menjalin dan mengutarakan cinta. Inilah kesempatan yang tepat bagi Ivan untuk menaklukkan wanita cantik juga kaya.
Begitu pidadari datang dengan sayap lebar,
            menyambar dan terkapar
Aku terperajat disana
 Aku akan begitu mengagumi
Lihat saja mentari yang berganti dengan rembulan
Dan langit yang kini dihiasi bintang
Begitu juga aku
Ivan terhenti. Dan menatap wajah Emma, kemudian memegang kedua tangan Emma.
Aku seperti langit yang mendabakan bintang yang terterang.
Ter henti lagi,
Kamu mau kan menjadi bintang itu...?” 
Muka Emma seketika memerah. Ia tak tahu harus bicara apa dan ia juga sangat susah sekali menangkap kata-kata puitis seperti itu. Ia membalasnya dengan senyum dan anggukan kepala. Jika ia menjawab dengan puisi juga pasti takkan nyambung karena dia bukan puitis.
            Mereka keluar dari kafe menuju mobil. Masuk dan mereka berdua terbawa asmara. Lumatan bibir dan ciuman-ciuman genitnya tersentuh di sekeliling bibir dan teling Emma. Ivan yang mengganti posisi menyetir langsung menuju rumahnya dengan kencang.
****
            Hubungan Ivan dan Emma tercium oleh Yadi. Seketika amarah yadi begitu melunjak-lunjak seperti bara dan mesin penggiling, siap menggiling teman yang menghisap liur sendiri. Tak hayal Yadi langsung menyerang Ivan kerumah. Saat itu Ivan sedang asik dengan laptop, ia sedang merangkai sebuah puisi.
            “Van, ada teman kamu di luar.” Ibu memanggil. Seketika ia langsung meninggalkan kamar dan menemui Yadi yang duduk menunggu di kursi.
            “Eh...Yadi, tumben main kerumah...?” hati Ivan telah menyangka kalau Yadi datang untuk mempertanyakan hubungan mereka atau ia telah mengetahui atau ia meinta bantu untuk bisa kembali dengan Emma. Ia sedikit gerogi dan bingung. Entah apa yang terjadi selanjutnya jika ia tahu. Haatinya bergemuruh bagaikan arus air di bendungan yang terjun dengan buih-buih putih dan berjalan terhambat.
            Yadi tidak langsung membongkar semua namun ia malah mengajak Ivan ngobrol di taman. Sedikit demi sedikit ia mulai membuka pembicaraan tentang Emma. Semakin waspada.
            “Lo udah putus dengan Emma..?” berpura-pura bodoh. Untuk mengelabui macan yang siap menerkam bila ia terlihat menantang.
            “Gua udah denger kok Van, kalau elo manfaatin kejadian gua.” Santai sekali yadi bicara namun sungguh  menyinggung.
            Deg. Jantungnya seperti pecah. Ia begitu kikuk tingkahnya seperti tak tentu ia sesekali mengacak-ngacak rambutnya.
            “Bukan itu, gua hanya temenan dengan dia. Dia begitu cinta ma elo Yad.” Ia sangat menjaga perasaan seorang sahabat tentunya.
            “Nyantai aja lagi Van, gua merasa bangga lagi. Kalau ternyata bekas gua masih ada yang manfaatin,” Nadanya standar. Begitu pedih, ucapan-demi ucapan serasa semakin memojokannya. “Aku serahin semuanya pada elo Van. Pasti elo bisa menjadi yang terbaik baginya. Nggak kayak gua yang bisa nyakitin dia aja, kalau dia bahagia ma elo gua juga bahagia Van,” Seraya menepuk lutut Ivan. Kata-katanya kini hanya untuk merendahkan Ivan. Ivan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, ia sangat menutup kemungkinan terjadi sesuatu. “Van, gua pulang dulu. Salam dengan Emma,” Ivan mengantar sampai tepi jalan depan rumah.
**BERSAMBUNG**


No comments:

S i n o p s i s Novel: Mencari Aku Waktu Dan Rahasia Dunia

Mencari Aku, Waktu, dan Rahasia Dunia adalah judul dari novel ini. Novel ini menceritakan tentang seorang anak muda dalam proses pencarian. Tokoh utamanya adalah ‘Aku’ dengan nama Fajruddin Saleh bin Tjik Saleh dengan karakter pemuda yang idealis dan memiliki seorang kekasih yang berbeda kepercayaan (ia memanggil kekasihnya itu si Manis, nama aslinya Resita Maulia). Tokoh utama adalah seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi Jurnalistik di salah satu universitas di Bandung yang sedang bercerita tentang bagaimana jika ia telah memperoleh gelar sarjana nanti. Ia sedang menjawab sebuah pertanyaan dari temannya (Ivan), di sebuah Pantai Kuta Bali. Novel ini banyak menggunakan pengibaratan, ini kutipan paragraph di dalamnya: Sekarang siang sudah terbentang seperti bioskop yang baru selesai filmnya. Byar...! nyala lampunya. Terang jadinya. Sedangkan orang yang sedang bercumbu langsung berusaha bertingkah seperti orang baru pulang dari masjid, kaki-tangannya langsung kembali kehabitatnya dan buru-buru mengancing segala kancing, celana juga baju. Merapikan rambut yang sama-sama kusut, tak jelas penyebabnya. Mengelap seluruh bagian tubuh yang basah, tak tahulah kalau bagian lain yang basah, di elap atau dibiarkan. Hussss... adegan kegelapan sudah usai! Mirip sekali perbuatan itu dengan penumpang dalam bus ini, ada yang mengusap air liur yang meleleh dibibir, ada yang memoles-moles mata belekan, dan merapi-rapikan rambut yang kusut dan baju yang semerawut, dikancingnya kembali. Masa tidur telah usai. Mau tahu kenapa? Sebab banyak orang menggunakan kegelapan sebagai ajang aji mumpung! Mumpung orang tidak tahu. Mumpung orang tak ada yang lihat, saya boleh melakukan apa saja, dll, dan dll. Maka terjadilah....adegan setiap kegelapan datang. Tokoh utama akan pulang kampung bila telah selesai kuliah nanti karena tak mampu untuk terus menyandang status pengangguran. Nah, dalam perjalanan pulang itu ia memperoleh banyak pengalaman dari seorang fotografer, seorang wanita yang sudah berkeluarga, keluarga perantauan dan seorang petualang. Pada setiap pertemuan ia selalu ngobrol dan bercerita. Jadi novel ini mengisahkan bercerita lalu dalam cerita itu ada lagi cerita. Jidi, novel ini sengaja ditulis dengan penuh canda, kata-kata yang lucu dan terkadang terdengar norak dan canggung di telinga. Sebab saya ingin menghibur, agar setiap pembaca dapat tertawa di samping keseriausannya mengolah semua pesan yang tersirat dalam isi novel. Bukan hanya itu saja isinya, tokoh utama juga meneruskan ceritanya dengan Ivan dengan lamunan. Dalam lamunan tokoh utama ia setelah di kampung halaman, ia mendirikan sekolah gratis untuk buta huruf. Dan sampai ia bekerja di sebuah instansi pemerintahan, kemudian ia kembali lagi ke Bandung untuk mencari impiannya. Ending dari novel ini sengaja saya buat menggantung, agar pembaca yang meneruskan kisahnya… Pesan yang ingin saya sampaikan dalam novel ini yaitu:  Sebuah kisah perjalanan. Disana saya ingin sekali menggambarkan bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan dan penuh pencarian. Pencarian didunia ini tak lain adalah pencarian kepuasan. Sebab, kepuasan adalah tingkat teratas dari semua level pencarian. Adakah seseorang memperoleh kepuasan? (sudah punya motor ingin mobil, punya istri satu pingin dua dan sebagainya), dan disetiap pencarian tak luput dari sebuah perjalanan baik itu perjalanan sebenarnya atau hanya perjalanan pikiran.  Saya juga ingin menyoroti masalah lapangan pekerjaan dan pengangguran di Negara kita yang tercinta ini. Ada satu anekdot “Yang ahli dan bahkan sarjana saja pengangguran apa lagi tidak sekolah dan tak ahli” lapangan pekerjaan di Indonesia memangsungguh sulit. Dan bahkan tingkat pengangguran semakin hari semakin mertambah.  Pendidikan gratis buta huruf. Saya ingin menyinggung tentang pemerataan pendidikan di Indonesia. Sebab banyak daerah terpencil di Indonesia masih belum tahu huruf alias buta huruf. Contoh di wilayah Papua berapa persen orang yang dapat membaca dan menulis?, lalu di wilayah Jambi ada yang dinamakan Suku Anak Dalam (Kubu), nah suku ini bisa dikatakan, orang yang tak terjamah oleh huruf. Masih banyak sekali penduduk Indonesia yang tak dapat membaca dan menulis sebenarnya.  Tokoh utama kembali lagi kekampung dan setelah itu kembali lagi ke Bandung. Itu adalah pesan yang sangat dasar, bahwasanya kehidupan adalah sebuah siklus waktu. Dimana ada kelahiran ada pula kematian, dimana ada kejayaan juga ada keterpurukan.