Friday, March 20, 2009

Kita Selamatkan Bumi Ini, Dari Ancaman Global Warming


Wacana tentang global warming tentu sudah sangat tidak asing di telinga kita saat ini. Efek rumah kaca, polusi udara hingga naiknya air laut yang berakibat pada banjir di sejumlah wilayah Indonesia dan Negara-negara lain di belahan dunia saat ini. Mungkin ini hal yang sangat mengerikan kalau tahun 2050 nanti kawasan Ancol, Tanjung Priok dan kawasan lain di Negara kita yang tercinta ini akan tenggelam.
Sebagai makhluk yang masih ingin hidup lama lagi di muka bumi ini dan juga penerus kita nanti tentu masih ingin menik mati daratan Indonesia, kita harus menyelamatkan dari wacana tenggelamnya beberapa wilayah di Indonesia yang di akibatkan oleh global warming. Mari kita kembalikan pada diri kita masing-masing, apakah kita sudah cinta dengan lingkungan kita dengan tidak membuang sampah sembarangan? Seberapa pedulikah dengan tumbuh-tumbuhan di sekitar kita? Bila tak sanggup melakukan penanaman, cukup dengan tidak merusak tanaman yang telah tumbuh. Mari kita koreksi, apakah kita sering menggunakan parfum yang menggunakan Gas?
Hal-hal diatas hanya garis besar penyebab global warming. Sampah dapat dibagi menjadi dua yaitu sampah organic dan non organic. Sampah organic adalah sampah yang dapat di terlebur apabila di tertanam didalam tanah, contoh, kertas, dedaunan dll, dan sampah non organic adalah sampah yang tak dapat dilebur yang berakibat fatal bila dibuang sembarangan, karena sampah tersebut tak dapat hancur meski terpendam seratus tahun dalam permukaan tanah. Contoh sampah non organik yaitu, plastic dll. Untuk sampah non organic sangat berbahaya untuk tumbuh-tumbuhan.
Kenapa kita harus peduli dengan tumbuh-tumbuhan? Tumbuh-tumbuhan mempunyai peran sangat penting untuk mengatasi global warming. Karena tumbuhan dapat menyerap air dan menyerap karbon dioksida yang dapat merusak lapisan ozon. Apabila kita merusak satu pohon saja itu berarti kita telah menyetujui tenggelamnya daratan kita ini. Penebangan pohon adalah suatu pemandangan tidak asing di Negara tercinta ini. Sering kali kita melihat penebangan pohon di pinggir-pinggir jalan dengan alasan tata kota yang katanya setelah ini akan ditanam lagi. Padahal pohon dapat menyerap air dengan maksimal saat pohon berusia sekita tiga sampai tahun. Mengapa pohon yang sudah dapat bekerja dengan optimal menyerap air dan karbon dioksida ditebang dengan mengganti dan menanam pohon baru yang belum berfungsi dengan sempurna dan bahkan kita harus menunggu beberapa tahun lagi. Seharusnya sebelum ditebang ditanam disebelahnya terlebih dahulu. Nanti setelah pohon muda besar, maka pohon tua baru ditebang.
Parfum adalah pewangi tubuh yang sangat sering kita jumpai dan digunakan banyak orang di dunia. Parfum disini bukan seluruhnya mengandung gas yang dapat merusak ozon, tetapi hanya parfum-parfum tertentu saja (parfum yang biasanya menggunakan gas adalah parfum-parfum semprot). Parfum yang menggunakan gas ini dapat terus naik keudara dan akan mengoyak lapisan ozon. Lapisan yang menahan sinar langsung dari matahari. Lapisan ozon sekarang ini telah sobek sebesar benua Australia. Oleh karena itu gunakanlah parfum-parfum alami dari tumbuhan (bunga) atau parfum-parfum yang tidak mengandung Gas.
Bumi ini adalah titipan untuk anak cucu kita nanti. Disini kita hanya menumpang dan harus menjaga sebaik mungkin agar titipan ini dapat tersampaikan dengan kondisi baik. Menyampaikan titipan ini adalah suatu amanat yang tak dapat kita sia-siakan. Cintai alam kita apabila kita tak ingin mereka marah.

S i n o p s i s Novel: Mencari Aku Waktu Dan Rahasia Dunia

Mencari Aku, Waktu, dan Rahasia Dunia adalah judul dari novel ini. Novel ini menceritakan tentang seorang anak muda dalam proses pencarian. Tokoh utamanya adalah ‘Aku’ dengan nama Fajruddin Saleh bin Tjik Saleh dengan karakter pemuda yang idealis dan memiliki seorang kekasih yang berbeda kepercayaan (ia memanggil kekasihnya itu si Manis, nama aslinya Resita Maulia). Tokoh utama adalah seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi Jurnalistik di salah satu universitas di Bandung yang sedang bercerita tentang bagaimana jika ia telah memperoleh gelar sarjana nanti. Ia sedang menjawab sebuah pertanyaan dari temannya (Ivan), di sebuah Pantai Kuta Bali. Novel ini banyak menggunakan pengibaratan, ini kutipan paragraph di dalamnya: Sekarang siang sudah terbentang seperti bioskop yang baru selesai filmnya. Byar...! nyala lampunya. Terang jadinya. Sedangkan orang yang sedang bercumbu langsung berusaha bertingkah seperti orang baru pulang dari masjid, kaki-tangannya langsung kembali kehabitatnya dan buru-buru mengancing segala kancing, celana juga baju. Merapikan rambut yang sama-sama kusut, tak jelas penyebabnya. Mengelap seluruh bagian tubuh yang basah, tak tahulah kalau bagian lain yang basah, di elap atau dibiarkan. Hussss... adegan kegelapan sudah usai! Mirip sekali perbuatan itu dengan penumpang dalam bus ini, ada yang mengusap air liur yang meleleh dibibir, ada yang memoles-moles mata belekan, dan merapi-rapikan rambut yang kusut dan baju yang semerawut, dikancingnya kembali. Masa tidur telah usai. Mau tahu kenapa? Sebab banyak orang menggunakan kegelapan sebagai ajang aji mumpung! Mumpung orang tidak tahu. Mumpung orang tak ada yang lihat, saya boleh melakukan apa saja, dll, dan dll. Maka terjadilah....adegan setiap kegelapan datang. Tokoh utama akan pulang kampung bila telah selesai kuliah nanti karena tak mampu untuk terus menyandang status pengangguran. Nah, dalam perjalanan pulang itu ia memperoleh banyak pengalaman dari seorang fotografer, seorang wanita yang sudah berkeluarga, keluarga perantauan dan seorang petualang. Pada setiap pertemuan ia selalu ngobrol dan bercerita. Jadi novel ini mengisahkan bercerita lalu dalam cerita itu ada lagi cerita. Jidi, novel ini sengaja ditulis dengan penuh canda, kata-kata yang lucu dan terkadang terdengar norak dan canggung di telinga. Sebab saya ingin menghibur, agar setiap pembaca dapat tertawa di samping keseriausannya mengolah semua pesan yang tersirat dalam isi novel. Bukan hanya itu saja isinya, tokoh utama juga meneruskan ceritanya dengan Ivan dengan lamunan. Dalam lamunan tokoh utama ia setelah di kampung halaman, ia mendirikan sekolah gratis untuk buta huruf. Dan sampai ia bekerja di sebuah instansi pemerintahan, kemudian ia kembali lagi ke Bandung untuk mencari impiannya. Ending dari novel ini sengaja saya buat menggantung, agar pembaca yang meneruskan kisahnya… Pesan yang ingin saya sampaikan dalam novel ini yaitu:  Sebuah kisah perjalanan. Disana saya ingin sekali menggambarkan bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan dan penuh pencarian. Pencarian didunia ini tak lain adalah pencarian kepuasan. Sebab, kepuasan adalah tingkat teratas dari semua level pencarian. Adakah seseorang memperoleh kepuasan? (sudah punya motor ingin mobil, punya istri satu pingin dua dan sebagainya), dan disetiap pencarian tak luput dari sebuah perjalanan baik itu perjalanan sebenarnya atau hanya perjalanan pikiran.  Saya juga ingin menyoroti masalah lapangan pekerjaan dan pengangguran di Negara kita yang tercinta ini. Ada satu anekdot “Yang ahli dan bahkan sarjana saja pengangguran apa lagi tidak sekolah dan tak ahli” lapangan pekerjaan di Indonesia memangsungguh sulit. Dan bahkan tingkat pengangguran semakin hari semakin mertambah.  Pendidikan gratis buta huruf. Saya ingin menyinggung tentang pemerataan pendidikan di Indonesia. Sebab banyak daerah terpencil di Indonesia masih belum tahu huruf alias buta huruf. Contoh di wilayah Papua berapa persen orang yang dapat membaca dan menulis?, lalu di wilayah Jambi ada yang dinamakan Suku Anak Dalam (Kubu), nah suku ini bisa dikatakan, orang yang tak terjamah oleh huruf. Masih banyak sekali penduduk Indonesia yang tak dapat membaca dan menulis sebenarnya.  Tokoh utama kembali lagi kekampung dan setelah itu kembali lagi ke Bandung. Itu adalah pesan yang sangat dasar, bahwasanya kehidupan adalah sebuah siklus waktu. Dimana ada kelahiran ada pula kematian, dimana ada kejayaan juga ada keterpurukan.