Thursday, April 18, 2013

Cerbung : Perempuan Setengah Hati 21

Oleh: Mulyadi Saputra (Moel)



Bagian 21 
Jalan terakhir
            Gemericik hujan menyertai malam yang gelap. Ivan masih saja duduk sendiri di depan terasnya. Rokok dan kopi menemani dimeja seblah kanannya. Sebentar-sebentar ia meneguk kopi hangat dan menghisap rokoknya dalam-dalam. Dunia semakin butek. Suara gemuruh hujan semakin kencang, Guntur bersahut-sahutan, kelat mengadu-ngadu.
            Ivan masih saja disana tanpa berubah posisi. Buku-buku disampingnya hanya sebagai hiasan tak dibacanya. Entah ia sedang memikirkan apa.

            “Van, masuk kedalam sini...nanti masuk angin lho.....” Ibu memanggilpun tak dihiraukannya. Ia kembali menyulut rokok. Tak lama kemudian adiknya keluar,
            “Kak...lagi mikirin apa sih....pacar ya....?” ledek Resti sambil tertawa-tawa. Ivan masih saja tak menghiraukan. “Kak....kok diem aja sih....” kembali adiknya bersandar dibahunya. Ia merasa kecewa karena ledekannya tak dihiraukan. Ivan berdiri dan memunguti buku, rokok dan kopi.
            “Ayo ...masuk...” ajak Ivan sambil memegang kepala Resti. Ia langsung menuju kamarnya dan adiknya berhenti dipangkuan Ibu di sofa, mereka sedang ngobrol dengan Ayah. Setelah sampai kamar ia duduk kembali dikursi meja belajarnya. Ia menyalakan rokok lagi, pikiranya melayang tak tentu. Ia ingat Sari dan ia juga begitu sayang sebenarnya dengan Debi. Namun terlintas sejenak ada bayangan Syerli. Entahlah....
            Debi adalah pacarnya yang paling lama. Dan ia putus karena salah paham dan Sari juga pacarnya yang membuat dia sadar akan arti kehidupan. Sari terlalu mencintainya sehingga ia merasa selalu diatur dan kontrol. Ia tak suka itu.
Ia juga ingat saat di lokasi pemotretan tadi. Ada dua orang cewek minta tanda tangan padanya. Ia mencandai dua cewek tersebut. Mereka tertawa cekikikan. Saling tukar nomor ponsel dan berkenalan. Dua cewek itu Mimin dan Tazkia. Ivan seperti menaruh perhatian langsung pada salah satu cewek itu, entah Mimin atau Tazkia. Tapi, kedua-duanya langsung pergi. Sambil mengatakan,
“Kami tak begitu tertarik sama kamu. Abisnya kamu play boy sih... kalau gantengnya sih boleh tapi, play boynya ....enggak deh....!” mereka tertawa kegelian sambil pergi meninggalkan Ivan. semua kru, dari kameramen sampai pengamat sekalipun tertawa.
“Itu namanya udah ketemu apesnya tau...” seloroh Mas Roy.
“Belum.....Mas Roy ...tunggu aja waktunya gua bergerak.” Ivan membela , ia tak mau terus dilecehkan.
“Udah-udah jangan terlalu ngotot bo.... mendingan ma gue aja,” sahut make upnya di balik tenda tempat bernaung sambil cekikikan tertawa. Ivan kesal ia langsung berbaring di tikar pandan. Suasana menjadi sedikit tegang.
Ivan sadar dari lamunannya ia mengambil sebuah buku hariannya. Buku itu telah dipenuhi coretan-coretan hari suntuk dan hari berinspirasi. Ia membuka lembar demi lembarnya. Buku itu memang sangat tebal sekali. Melebihi tebal kamus Jhon Lenon. Sampai dipertengahan ia berhenti disatu lembar, ada foto seorang cewe sedang tersenyum. Mukanya putih berseri. Keturunan China.
Ivan mengusap-usap foto itu. “Ngapain sih..kita harus putus dulu...?” dalam benaknya merintih. Kemudian ia membuka terus lembaran demi lembaran. Ada sebuah puisi karya almarhum Syerli,

Diantara Mahkamah Cinta

Aku pecundang.....
Merayap di dinding-dinding prahara..
Menatap lubang-lubang mahkota

Aku di sini bimbang.....
Diantara mahkamah cinta.
Aku berdiri menatap hampa

Aku menjadi  bingung.....
Mengapa hakim berdusta
Untuk menyidang aku dan dia
Jadi siapa...?
Yang menjadi saksi atau terdakwa...
By, Syerli.

Ivan termangu. Tanganya menyangga di dagu. Apa yang sedang ia pikirkan, semua telah terjadi....
****
            Ia berangkat kuliah sengaja lewat depan sekolahan Debi, ia merasa rindu dengan perempuan berkulit putih keturunan China peranakan. Ia pun mampir di kantin sekolah itu, memesan segelas jus jeruk. Lalu ia menyulut rokoknya. Dalam hatinya sangat berharap bisa bertemu dengan Debi, namun sampai jam Istirahat selesai tak juga Debi memijakkan kakinya di kantin. Ia langsung ke kampus.
            Seperti tak bosan setelah pulang kuliah ia juga lewat depan rumah Debi, disana hanya terlihat baju-baju tergantung. Ia tak mampir. Berulang-ulang kali ia berusaha menghubungi telpon genggamnya namun sama sekali tak pernah terjawab. Hanya suara mesin yang mengatakan,
            “Maaf.. nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan, mohon hubungi beberapa saat lagi,” lalu ia menekan tombol exit. Ia mencoba SMS namun tidak satupun yang terkirim.  “Apa mungkin ini karma bagiku.” pikirannya gaduh.
            Esoknya ia kembali mendatangi sekolahan Debi. Disana terlihat Debi sedang bercanda dengan salah satu temannya. Ia mendekat dan meminta Debi untuk ngomong berdua. Debi menolak.
            “Nanti malam gua tunggu di kafe biasa.” Seru Debi meninggalkan Ivan. a berjalan menunduk melewati beberapa kerumun siswa SMA dan satpam yang memandangnya sangar.
            Suara motornya meninggalkan sekolahan itu. Ia langsung pergi menuju kampus tercinta. Disana ada Gugun dan Anto sedang berdiri. Ivan langsung mendekat dan memberi salam pada kedua temanya itu.
            “Kenapa lagi elo...?” Gugun seperti meledek.
            “Gua lagi pusing Bro’....” sambil bersandar di dinding beton dekat parkiran. Tumbur Anto ingin memberi semangat.
            “Gugun aja yang baru putus dengan Nania nggak sepusing elo...” mereka berdua tertawa Ivan pun ikut menertawakan Gugun.
            Gugun putus karena mereka selalu bertengkar disamping berlainan pendapat mereka juga mempunyai latar kehidupan yang berbeda. Gugun memutuskan untuk pisah supaya mereka lebih bisa tenang dan lebih dewasa untuk menghadapi sesuatu.
            “Itu Gugun, gua lain Bro’... kayaknya jalan terakhir gua, yaitu Debi. Gua pengen jadian lagi ma dia, dari pada gua jomblo ber abad-abad,” semua tertawa melecehkannya. Sama sekali ia tak peduli. Pantas kalau dengar kata pepatah “Biarkan anjing menggong-gong kafila tetap berlalu,” tepat sekali pepatah itu bila dilontarkan padanya. Gugun tersentak hatinya untuk mengingat Nania. Lalu ia terdiam setelah ketawa terhambur di udara.
            “Ada apa Gun..?” Anto menepuk punggungnya.
            “Dia ingat sama mantannya,” sahut Ivan menebak. Mereka tertawa lagi.
**BERSAMBUNG**
                             >>>CERITA LAIN "KLIK"<<<

S i n o p s i s Novel: Mencari Aku Waktu Dan Rahasia Dunia

Mencari Aku, Waktu, dan Rahasia Dunia adalah judul dari novel ini. Novel ini menceritakan tentang seorang anak muda dalam proses pencarian. Tokoh utamanya adalah ‘Aku’ dengan nama Fajruddin Saleh bin Tjik Saleh dengan karakter pemuda yang idealis dan memiliki seorang kekasih yang berbeda kepercayaan (ia memanggil kekasihnya itu si Manis, nama aslinya Resita Maulia). Tokoh utama adalah seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi Jurnalistik di salah satu universitas di Bandung yang sedang bercerita tentang bagaimana jika ia telah memperoleh gelar sarjana nanti. Ia sedang menjawab sebuah pertanyaan dari temannya (Ivan), di sebuah Pantai Kuta Bali. Novel ini banyak menggunakan pengibaratan, ini kutipan paragraph di dalamnya: Sekarang siang sudah terbentang seperti bioskop yang baru selesai filmnya. Byar...! nyala lampunya. Terang jadinya. Sedangkan orang yang sedang bercumbu langsung berusaha bertingkah seperti orang baru pulang dari masjid, kaki-tangannya langsung kembali kehabitatnya dan buru-buru mengancing segala kancing, celana juga baju. Merapikan rambut yang sama-sama kusut, tak jelas penyebabnya. Mengelap seluruh bagian tubuh yang basah, tak tahulah kalau bagian lain yang basah, di elap atau dibiarkan. Hussss... adegan kegelapan sudah usai! Mirip sekali perbuatan itu dengan penumpang dalam bus ini, ada yang mengusap air liur yang meleleh dibibir, ada yang memoles-moles mata belekan, dan merapi-rapikan rambut yang kusut dan baju yang semerawut, dikancingnya kembali. Masa tidur telah usai. Mau tahu kenapa? Sebab banyak orang menggunakan kegelapan sebagai ajang aji mumpung! Mumpung orang tidak tahu. Mumpung orang tak ada yang lihat, saya boleh melakukan apa saja, dll, dan dll. Maka terjadilah....adegan setiap kegelapan datang. Tokoh utama akan pulang kampung bila telah selesai kuliah nanti karena tak mampu untuk terus menyandang status pengangguran. Nah, dalam perjalanan pulang itu ia memperoleh banyak pengalaman dari seorang fotografer, seorang wanita yang sudah berkeluarga, keluarga perantauan dan seorang petualang. Pada setiap pertemuan ia selalu ngobrol dan bercerita. Jadi novel ini mengisahkan bercerita lalu dalam cerita itu ada lagi cerita. Jidi, novel ini sengaja ditulis dengan penuh canda, kata-kata yang lucu dan terkadang terdengar norak dan canggung di telinga. Sebab saya ingin menghibur, agar setiap pembaca dapat tertawa di samping keseriausannya mengolah semua pesan yang tersirat dalam isi novel. Bukan hanya itu saja isinya, tokoh utama juga meneruskan ceritanya dengan Ivan dengan lamunan. Dalam lamunan tokoh utama ia setelah di kampung halaman, ia mendirikan sekolah gratis untuk buta huruf. Dan sampai ia bekerja di sebuah instansi pemerintahan, kemudian ia kembali lagi ke Bandung untuk mencari impiannya. Ending dari novel ini sengaja saya buat menggantung, agar pembaca yang meneruskan kisahnya… Pesan yang ingin saya sampaikan dalam novel ini yaitu:  Sebuah kisah perjalanan. Disana saya ingin sekali menggambarkan bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan dan penuh pencarian. Pencarian didunia ini tak lain adalah pencarian kepuasan. Sebab, kepuasan adalah tingkat teratas dari semua level pencarian. Adakah seseorang memperoleh kepuasan? (sudah punya motor ingin mobil, punya istri satu pingin dua dan sebagainya), dan disetiap pencarian tak luput dari sebuah perjalanan baik itu perjalanan sebenarnya atau hanya perjalanan pikiran.  Saya juga ingin menyoroti masalah lapangan pekerjaan dan pengangguran di Negara kita yang tercinta ini. Ada satu anekdot “Yang ahli dan bahkan sarjana saja pengangguran apa lagi tidak sekolah dan tak ahli” lapangan pekerjaan di Indonesia memangsungguh sulit. Dan bahkan tingkat pengangguran semakin hari semakin mertambah.  Pendidikan gratis buta huruf. Saya ingin menyinggung tentang pemerataan pendidikan di Indonesia. Sebab banyak daerah terpencil di Indonesia masih belum tahu huruf alias buta huruf. Contoh di wilayah Papua berapa persen orang yang dapat membaca dan menulis?, lalu di wilayah Jambi ada yang dinamakan Suku Anak Dalam (Kubu), nah suku ini bisa dikatakan, orang yang tak terjamah oleh huruf. Masih banyak sekali penduduk Indonesia yang tak dapat membaca dan menulis sebenarnya.  Tokoh utama kembali lagi kekampung dan setelah itu kembali lagi ke Bandung. Itu adalah pesan yang sangat dasar, bahwasanya kehidupan adalah sebuah siklus waktu. Dimana ada kelahiran ada pula kematian, dimana ada kejayaan juga ada keterpurukan.