![]() |
Ilustrasi by: inforinaldi.blogspot.com |
Bagian 2
Aji Mumpung
Pagi
pun begitu dingin dengan embun yang menutupi jarak pandang dan kesejukan
menembus keseluruh tubuh. Ivan duduk di teras belakang sambil menikmati
indahnya pagi dengan sebatang rokok Malboro.
Seraya Ibu memanggil, mengajak sarapan bareng dengan Ayah yang sebentar
lagi akan berangkat ke kantor. Ia beranjak dengan menjelentikkan rokok dari
jemarinya.
Ayah
senyum menyapa pagi dengan lembut. Ivan pun membalas dengan duduk pas di kursi
lipat. Ayah hanya diam mengambil sepotong roti dan menampalkan keju di atasnya.
“Van...Ayah
mau ngomong dengan kamu. Kamu boleh punya
pacar, tapi kamu harus hati-hati,
jangan sampai mempermalukan keluarga.” Ayah menghentikan sejenak. “Kamu itu
anak laki-laki satu-satunya dari Ayah. Ayah denger kalau setiap hari banyak
sekali perempuan yang menelpon kesini, Ayah jadi cemas dan menghawatirkan
pergaulan kamu. Ayah juga pernah muda. Tapi satu yang Ayah ingat jangan sampai
mengecewakan keluarga atau mempermalukannya,” berwibawa sekali Ayah mengucapkan
dari kata ke kata. Suaranya ngebass membuat setiap kata menjadi merdu dan
lekuk-lekuk perhentian alias titik komanya pas. Pokonya berwibawa. Ivan terdiam
hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dari dulu ia jarang sekali di marahi atau
sampai dipukul. Itu tak pernah.“Ayah susah sekali bisa ngobrol dengan kamu.
Sedangkan kamu harapan Ayah.” Ivan semakin tertunduk. Namun ia menyela supaya
tak berlarut-larut. Pagi-pagi sarapannya nasehat. Pikir Ivan dalam hati.
“Ayah
pulang jam berapa..?” ia mengabil waktu yang tepat untuk mengalihkan semua. Ia
tersenyum ragu.
“Nggak
tau, kayaknya maleman dikit, kamu ada acara hari ini..?” tanya sang Ayah dengan
tatapan pasti kearah matanya.
“Nggak juga sih, kalau ada yang mendadak bisa jadi,
kalau sekarang sih belum.” Ia mencoba nurut-nurut wibawa, suaranya di
besar-besarkan biar ngebaas untuk menjelaskan terhadap orang yang membentuk
jiwanya. Ibu datang membawakan susu, ia duduk tepat di samping Ivan.
“Kok...
cuma satu iris rotinya..?” sambil meletakkan gelas susu di hadapan kedua orang
yang sangat mereka sayangi.
”Udah
kenyang Bu.” ucapnya seraya memegang tangkai gelas yang berisi penuh dengan
cairan berwarna putih itu.
Ivan
duduk di ruang tamu sambil membaca majalah yang berserakan di sana. Tiba-tiba Anto
datang dan mengajaknya ke tempat latihan. Mereka ngobrol sebentar di ruangan
itu. Ivan mengambilkan segelas air minum. Mula-mulanya Anto sedikit menolak
tetapi akhirnya di minum juga. Tetapi ia
meminta Anto menunggu sebentar. Untuk mandi tentunya. Anto juga salah satu temannya
dikalangan model saling melengkapi. Ivan pecanda tapi jenius. Anto punya daya
ingat tinggi tapi, jarang bercanda.
Anto
menggoncengnya dengan motor Shogun yang masih terlihat mentereng. Sesampainya
di sana Dian dan Karin sangat asik ngerumpi. Wajar sih, perempuan mempunyai kehidupan seperti itu. Ivan dan Anto
langsung ikut duduk dengan kakinya terselimpang di depan mereka. Sepertinya
Ivan ingin sekali cepat nyambung dengan obrolan diantara Dian dan Karin. Yang membuatnya
tertarik adalah obrolan seputar dunia yang mereka jalani sekarang ini.
Dunia
model memang sangat kerap di bicarakan. Dari berbagai sudut pandang yang
berbeda tentunya. Apalagi seorang model wanita sering digunjingkan sebagai
pelayan diantara pria hidung belang. Mereka sangat membantah sekali dengan
perkataan itu sebab realitanya tidak bagi mereka. Apalagi dunia model kerap
juga di juluki sebagai dunia yang kerap memancing masyarakat untuk
berperangsangka buruk. Sebenarnya fenomena seperti ini sudah tidak asing lagi
dibicarakan oleh kamun mereka. Tetapi, tetap saja telinga yang mendenganr masih
panas. Apalagi melihat model yang memakai pakaian seksi saat tapil dalam suatu
acara. Itu juga sangat berpengaruh bagi masyarakat awam tentunya.
Sesering
mungkin Ivan menyangga obrolan mereka namun ia mempunyai bukti yang jitu jadi,
mereka semua sepertinya enggan untuk terus berdebat dengan si jago baca buku
itu. Memang sangat terkenal Ivan adalah sosok cowok rajin baca buku apalagi
novel yang kerap ia masukkan dalam obrolannya. Ia juga sering membawa buku pada
saat latihan seperti ini. Sepertinya ia tidak ingin dunianya hilang dengan
kesibukan model. Baginya baca buku adalah suatu pengetahuan yang tak kan ia
dapat dengan siapapun. Benar juga sih, karena tidak mungkin seorang Guru atau
Dosen menyampaikan materi setebal alias sebanyak yang ada dalam buku pada waktu
yang singkat. Lagi pula buku adalah guru yang bisa dibawa kemana-mana.
Sepertinya
hari ini hanya latihan saja untuk pertunjukan atau tampil pada acara di Jakarta
nanti. Namun diantara mereka belum datang semua diantaranya Gugun, Agus, Febry
dan lainnya. Latihan biasa mereka lakukan setelah datang semua.
”Ah....Pada
molor lagi..” ceplos Anto dengan wajah kesal dan seperi sangat bosan sekali
menunggu seperti ini. Memang menunggu adalah hal yang sangat membosankan,
banyak kalangan yang mengutarakan seperti itu.
”Wajar
lah...ngasitaunya sih, mendadak...” jawab Dian dengan pembelaan kepada yang
terlambat. Namun Ivan dan Karin hanya diam saja terkadang mereka
mengangguk-anggukkan kepala seperti paham.
Latihan
telah dimulai siang itu. Ivan sedikit gagu, entah ada apa. Saat ia parade ia selalu salah dan sangat sering
sekali ia ditegur oleh para senior dan para pelatih.
”Van
kamu kok gitu sih, biasanya nggak.” sambil mendekati Ivan pelatih itu.
Sedangkan Ivan tak mampu menjawab apa-apa selain senyum sebagai obat malu.
Seperti salah satu bunga, bila tersentuh oleh manusia akan meringkup, dia Putri
Malu katanya. Tumbuhan aneh dengan daun yang kecil.
Pada
saat itu mereka sedang berlatih melakukan parade
air mancur yang bagi mereka sedikit susah dari pada yang lainnya. Berjajar lalu
menyebar seperi air mancur di Alun-alun,
oleh karena itu pula di sebut parade air mancur. Namun itu permintaan yang
harus mereka turuti. Namun tidak itu saja yang dilatih kembali pada hari itu.
Sesering
mungkin Dian menertawakan Ivan yang selalu saja salah. Meskipun ia selalu
ditertawakan tapi, ia terus berusaha semaksimal mungkin. Seperti biasa untuk
tampil pada show besar seperti ini
harus melalui seleksi yang sangat teliti dan latihan yang gigih.
*****
Besok Ivan dan dan teman-temannya akan
pergi ke Jakarta untuk memenuhi undangan permodelan. Mereka diantaranya Dian,
Gugun, Anto, Karin, Agus, Ivan dan lainnya. Mereka salaing bersiap-siap karena
di Jakarta selama dua hari penuh, jadi harus perlu bawa peralatan menginap yang
cukup. Rupanuya bukan pendaki saja yang harus membawa banyak perbekalan. Wajar
sebenarnya kalau pendaki berbekal banyak, karena di gunung tidak ada Mall atau
warung apa lagi restouran. Sedangkan pergi ke kota seperti Jakarta seharusnya
tidak terlalu dipersulit masalah perbekalan.
Jam 8.00 wib Ivan telah bangun.
Bersiap-siap untuk berangkat jam sembilan nanti. Bebrapa kali SMS dari
teman-temannya telah menumbur waktu yang teramat singkat pagi itu. Sedang Ivan
sama sekali tak cukup waktu untuk membalas semuanya. Hanya sebagian saja yang
sepertinya itu sangat perlu sekali.
Semuanya telah kumpul bersama di lokasi
atau tempat yang telah direncanakan dan dijanjikan. Selama dalam perjalanan
menuju Jakarta mereka sangat gembira sekali sepertinya. Ada yang asik tertawa
dengan obrolannya, ada yang asik tidur seperti Anto. Untuk ceweknya masih
seperti biasa yang terus asik ngerumpi. Sama sekali tak heran dengan keadaan
seperti ini. Sesekali Agus mengeluarkan tebak-tebakan. Terkadang nyambung
terkadang lari jauh kamana saja jawabannya. Ia terkenal sangat cerdik masalah
tebak-tebakan. Lain pula Ivan, ia menunduk dengan novel dan terkadang tersenym
menertawakan ketidak warasan teman-temannya atau tokoh dalam novel yang
dibacanya sedari tadi.
Acara itu dimulai pada jam 5.00 wib. Dak...dik...duk...jantung
Ivan seakan-akan ia ragu untuk bisa tampil bagus. Namun sedikit terlintas dalam
ingatannya yaitu tentang perempuan. Ia ingin mencari kecengan pada acara nanti,
maklum ia menjomblo sekitar tiga bulan lebih. Bukan ia tak mau cari atau tak
ada lagi yang ia sukai tetapi ia sangat mempertimbangkan orang yang menjadi
pendampingnya itu. Sambil ia menghisap rokok Malboro terus berhayal dengan
teman modelnya yang nanti akan sama-sama nampil.
“Mudah-mudahan
cantik-cantik terus mau jadi pacarku,” dalam hatinya berkata seperti ingin tertawa.
Hotel berbintang itu tak pernah sepi.
Terus bermacam-macam kejadian dilihatnya. Dari mulai orang keluar-masuk dengan
pasangan sampai para permpuan penggoda yang akan mempraktekkan teori barunya
yang ia temukan sepekan terkhir atau ia dapat dari teman segaulnya tadi malam. Duduk,
senyum ramah terus memandangi lelaki yang masuk, entah maksudnya apa.
“Hoi.....Ngelamun aja.” Pety mengejutkan.
Ivan sedang duduk santai di kamar hotel itu.
”Eh..elo... ada apa..?”
Sebenarnya Ivan ingin meneruskan
lamunannya namun pengganggu terus muncul dari Agus sekarang Pety. Jadi ingat
sewaktu ujian di kelas, orang yang dijuluki sebagai orang yang paling pintar di
kelas maka akan selalu di ganngu saat ujian tersulit datang. Diminta contekan
tentunya.
”Enggak, pengen ngobrol aja ma elo.”
tumbur Pety, sepertinya sangat penting sekali. Namun Ivan sendiri tidak begitu
merespon.
Bisa dibilang Pety mempunyai ilmu hipnotis
tinggi. Ia dapat menggugah minat Ivan ngorol sampai akhirnya Bang Yus masuk
menyuruh mereka untuk segera siap-siap karena sebentar lagi acara dimulai.
Mereka harus di make up dulu dan
pastinya memerlukan waktu yang tidak sebentar. Obrolan mereka terputus dan
mereka langsung beranjak menuruti apa yang Bang Yus katakan.
Diruang Make Up terlihat banyak sekali perempuan cantik rupanya. Itu jelas.
Ivan tertegun sejenak mengingat tujuan dia ke Jakarta selain memenuhi tuntutan
kerja salah satunya yaitu mengisi ruang hatinya yang sekarang sedang kosong
setelah ia putus dengan Debi beberapa waktu lalu. Kalau bicara tentang
kekosongan hati itu sebenarnya urusan minat. Sekarang Ivan berminat atau tidak
dengan wanita yang berjejer di depannya. Mereka sedang belepotan dengan bedak.
Mana wajah aslinya. Kata Nenek dulu, “Kalau mau menilai seorang perempuan dari
kecantikan lihat lah dia pada waktu bangun tidur. Kalau dia cantik pada saat
itu, apa lagi nanti setelah di make up,” benar juga.
”Ih.... jauh lagi duduknya ...” ia sedikit
kecewa setelah disuruh duduk jauh dari keberadaanincarannya itu. Jika seseorang
berperang semakin jauh keberadaan musuh maka semakin susah membidiknya.
Kira-kira begitu.
**BERSAMBUNG**
>>>Baca Yang Lain "Klik"<<<
No comments:
Post a Comment