Oleh: Mulyadi Saputra (Moel)
![]() |
hafshaher.blogspot.com |
Bagian 1
Jejak
“Van, elo yang bener dong.... kita temenan
bukan sekarang-sekarang aja, dari dulu Van...! gua nggak seneng dengan cara elo
ngomong,” Ucap Andi setelah jengkel karena ia merasa diremehkan Ivan. Mulutnya
telah kecut untuk memuntahkan kata-kata panas itu. Harga diri bukan bagaimana
orang menginjak harkat martabat saja, tapi juga bagaimana orang meremehkan kita
seakan-akan kita seorang yang menerima keajaiban alam untuk menolong. Mustahil.
Tuhan memang Maha Penyayang, tapi ia takkan menurunkan pertolongan dari langit
seperti jaman dahulu. Mukjizat katanya.
“An...An....elo
jangan sensitif gitu dong...Gua cuma canda lagi...” cengkal Ivan membela
dirinya.
“Ah...Gua
bosen ngomong ma elo....” Andi seraya pergi meninggalkan Ivan begitu saja. Ivan
menarik-narik tangannya namun ia malah menampik dan diperlihatkan
kejengkelannya. Raut mukanya sangar.
“Ah....resek
elo
...” ia menggenjot motornya kemudian memutar dan melaju meninggalkan Ivan. Ia
hanya bengong sambil menatap sekitar. Otaknya berotasi kencang seperti rotasi
roda motor saat gas menekan keras kebawah. Entahlah. Bayangan damai sesaat
hilang diterpa kabut bisu. Berarak-arakan dilangit yang tak terhitung
jumlahnya, terbawa angin seperti hewan peliharaan yang digiring menuju kandang
saat malam tiba oleh tuannya.Tangannya mengacak-acak rambutnya. Kusut dibuatnya.
Permasalahan
sangat sepele sekali sebenarnya. Andi hanya tersinggung atas perkataan Ivan, baginya
itu melecehkannya. Tongkrongan itu
seraya sepi seketika. Ivan masih duduk di atas mesin mobil Taff tuanya,
warnanya biru-biru tua, banyak catnya yang terkelupas akibat benturan-benturan
kecil. Mungkin saja saat lampu merah di persimpangan jalan, ia menumbur
kendaraan didepannya atau kendaraan di belakangnya justru yang menumbur.
Ia masih tertegun. “Emang ngomong itu
harus bener-bener dijaga,” Benar Van...
“lida kita itu ibarat pedang.” Kata pepatah Arab. Namun, di negara kita lebih
di kenal dengan pepatah “mulutmu harimaumu.”
Kambali ia termenung sendiri sebelum ia
memutuskan untuk pergi dari tempat perseteruan itu.
Andi
kecewa karena Ivan mengatakan kalau pacarnya itu tak level dengannya,
“Pacar
elo itu jelek... cari kek yang cantik...” sebenarnya semua itu hanya canda
tapi, dia begitu tersinggung. “Kalau gua punya pacar kayak gitu udah gua
putusin dari dulu...” mulutnya mencla-mencle terlihat sekali mengejek. Kemudian
Andi langsung berdiri dan langsung marah-marah tak terkontrol lagi.
Sejak
itu pula Andi tak mau lagi menghubungi atau berteman dengan Ivan. baginya Ivan
tak pernah bisa menghargai seseorang. Itulah perasaan Andi saat itu.
“Kurang
apa gua dengan dengan dia, dia nggak ngerjain tugas kuliah gua kasih
referensinya. Gua begitu menjaga persahabatan ini. Keparat Ivan...”
ngomel-ngomel sendiri saat ia termenung di kamarnya.
*****
Sepatu berdebu alias dekil dan kusam terlihat di kaki Ivan malam itu.
Seharian sepatunya bergelut dengan aspal dan debu, tapi itulah profesi alas
kaki. Bau menyengatpun terkeluar dari kaos kakinya. Ia masuk ke kamar sambil
membuka baju dan kaos dalam. Terasa dingin dengan keringat yang pernah
membasahi seperti halnya sepatu. Ia keluar lagi dari kamar untuk mengambil air
minum yang tersedia di dispenser.
Memang Ivan terlihat sedikit jorok dan
malas. Sebenarnya ia seorang model yang tak wajar bila seperti itu. Namun itu
sepertinya telah terbawa dari mulai ia lahir. Dalam penampilan tidak terlihat
sama sekali kalau sebenarnya dia jorok. Selalu necis selayaknya anak muda yang
terus terlibat dengan arus mode pakaian sekarang ini.
Ia
kembali ke kamar, dengan senyum menatap kebulan asap rokok dari mulutnya.
“Van
nggak makan dulu..?” Tanya Ibu terlihat sangat sayang sekali padanya dan sangat
tahu pasti ia belum makan jika pulang malam seperti ini.
“Belum
laper Bu.” Jawab Ivan dengan nada sedikit tegas supaya Ibu tidak terlalu
memaksakan kehendak. meski Ibu sangat sayang padanya tapi dia tidak pernah
memaksa kepada Ivan, tidak seperti Ibu-Ibu yang lain terus memaksa anaknya
dengan alasan yang sudah tidak asing lagi “Karena Ibu sayang dengan kamu, maka
Ibu nyuruh, itu tandanya masih perhatian.” dengan demikian Ivan pun sadar kalau
Ibu juga sangat sayang dan perhatian padanya. Lalu ia tertidur pulas.
Spertinya
Debi kekasihnya sehari ini tak melihat Ivan dan tak juga ia menelpon atau SMS.
Ivan sibuk, sehingga ia tak cukup waktu
untuk memberi kabar. Padahal beberapa kali Debi SMS tapi tak juga ia balas.
Yang pertama alasannya ia pas Jam belajar dan sewaktu ia nelpon Ivan pas pemotretan
jadi tak ada waktu sepertinya. Oya.... Ivan adalah seorang mahasiswa Fakultas
Komunikasi atau biasa disebut FIKOM disebuah Universitas mahal di Bandung. Ia
masuk di jurusan Jurnalistik karena ia sangat gemar menulis disamping
kesibukannya di dunia model dan ia juga sangat menyenangi dinia itu.
*****
Pagi
yang sejuk dan sorot matahari menembus jendela kaca kamar Ivan. Tak lama ia
bangun dengan perlahan ia membuka matanya sedikit terkunci oleh belek menempel
di sudut-sudut mata kanan dan kiri. Ia memuriat seakan enak sekali dengan
desusan yang khas dari mulutnya.
”Uaaaaaah...!”
sambil meluruskan tangan dan persendian tubuh yang kaku. Ia langsung menjamah
ponsel di meja seraya ingin melihat jam. Sedikit ia teringat kalau jam sembilan
ia harus ke kampus, ada matakuliah yang masuk pada jam tersebut. Namun setelah
melihat di layar HPnya begitu banyak tanda amplop surat yang berarti SMS, ia segra
membuka satu-persatu, diantaranya ucapan selamat tidur dari Gugun dan Maria dan
selanjutnya tiga SMS dari Debi,
From : Debi 22:30:56
Say...kmna aja kok ga’
ada ksh kbr shri ini..?
Aq kan Rindu bgt,
lupa ya ma aq..?
Itu adalah SMS yang pertama dan Ivan pun hanya menggelengkan kepala sambil
tersenyum.
From : Debi 22:56:37
Kok ga’ di blz ..? bnr
lupa ya..
Say... aq tlp ya...?
Ga’ ganggu kan... I O U
Blz
From : Debi 23:29:21
Say...Udah ga’ mau lg angkt
tlp
dr aq ya..? klu qm udh
bosan ma aq blng
dong jgn bikin q sprt
ini..
Tercengang kali ini Ivan
membacanya.
”Wah.....Kacau
bener nih..” bisik Ivan sendiri seraya merasakan kalau pacarnya benar-benar
marah. Ia juga ingat kemarin berulang kali dia menelpon tak diangkat dan SMS
juga tidak pernah ia balas. Sepertinya ia lupa atau sengaja ya...?
”Ini
harus aku telpon sekarang. Eh....SMS aja kayaknya, pulsaku ngak cukup lagi.”
bingung. Ia bolak-balik di kamar seperti orang yang hilang arah tanpa tujuan saja........
Debi
hanya menangis dan tertutup bantal. Tapi, ia pagi ini tetap berangkat sekolah meski
begitu gundah dalam hati. Serasa tercekik-cekik hatinya menahan amarah yang
dilakukan Ivan.
”Kalau
udah punya yang baru ngomong kek. Atau Ivan udah bosan denganku..?” tanda tanya
besar yang tercoret di benak perempuan berkulit kuning dan pipinya yang lembut.
Sayup matanya dengan bulu mata yang melengkung, layak sekali kalau Debi itu
menjadi seorang model. Namun ia tidak mau, meski beberapa kali Ivan dan teman-temannya
menyuruh ia menjadi model. Maklum orang tuanya keturunan China dan Ibunya asli
Bandung, pasti anaknya patent. Putih, matanya sipit-sipit sayu dan lentik,
cantik terus manis dan plus-plus dan plus deh. Mungkin kalau di kampung bisa
disebut Gadis Desa dan kalau di kota jadi, Gadis Kota.
****
Ivan
langsung mandi setelah ia sibuk mencari adiknya yang kemungkinan punya pulsa,
tetapi adiknya telah berangkat kesekolah. Ivan memang punya adik satu namanya
Resti dan dialah anak pertama. Jadi, mereka dua bersaudara.
Setelah
mandi Ivan langsung buru-buru keluar untuk membeli Voucer isi ulang. Ia
langsung menghubungi Debi, namun tak juga diangkat olehnya. Berulang-ulang kali
ia mencoba tak juga ada hasilnya. Lalu ia mencoba mengirim pesan singkat pada kekasihnya
tersebut.
To : Debi 09:19:41
Hai..Sayang.....
Kok
ngbek sih...?
Segitu
nya. Aku kmrn itu kcpean
Trs
tidur jd ga’ tau klau qm sms n’ tlp
Maaf
ya...Blz
“sent”
Debi menerima SMS itu bukan gembira tetapi ia
malah seperti tambah sedih dan ia juga membalas tidak mengangkat telponnya dan
tak membalas SMS dari Ivan.
Namun
Ivan semakin sibuk dan semakin garuh pikirannya. Ia tetap berangkat ke kampus
dengan Mobil Taft andalannya yang terus mengyaksikan betapa lebar dunia dan
sempitnya kemacetan jalan di Bandung. Selama ia menyetir ia selalu ingat akan
sosok Debi yang sedang marah padanya. Dan ia ingin menjemputnya pulang sekolah
nanti siang.
Perkuliahanpun
selesai. Ia langsung menuju tempat parkir di halaman kampusnya. Dari jauh ia
telah menekan tombol klakson dari remot mobil andalannya itu. Dengan sebentar
ia telah menuju ke sekolahan Debi untuk menjeput dan membicarakan kesalah
pahaman yang terjadi antara mereka berdua. Sesampainya di sana ia langsung
disambut oleh Syerli teman baiknya dan juga teman Debi meski tidak sekelas.
”Hai....Jemput
aku ya..?” sambut Syerli, menggoda dengan manja. Memang ia terkenal centil
alias banyak ngomong atau brisiklah biasa dibilang teman-temannya. Namun bila
tidak ada sosok Syerli seperti sepi, ialah yang selalu membuat ribut dan
bising.
”Debi
mana..?” tanya Ivan langsung kepokok permasalahan tanpa menanggapi perkataan
Syerli tadi.
”Belum
keluar. Tunggu aja, sebentar lagi juga pulang,” jawabnya tanpa basa-basi pula.
Mereka berdua terus duduk di kantin sekolah samping gerbang pintu masuk.
Mobilnya tak diparkir pada tempatnya membuat Satpam sekolah itu menjadi gemes
dan menegur Ivan.
”Mas...Parkirnya
jangan dijalan gitu dong..! Disitu kan tempat parkir,” Satpam itu menegur
sambil memandang tepat di muka Ivan. Ia pun langsung menuju mobilnya dan
memarkirkan di sebelah kiri kantin. Syerli hanya senyum-senyum meledek.
Debi
berjalan menunduk terus lurus melewati gerbang dan kantin tanpa sedikit menoleh
atau mampir. Ivan menjadi terhanyut dengan obrolan dengan Syerli sampai-sampai
ia tidak melihat orang yang ditunggu telah pulang. Biasa Syerli setiap jumpa
dengan Ivan hanya curhat. Curhat dan curhat. Ivan juga sangat mengerti bagaimana
perasaannya mendengar rintihan batin Syerli.
Ber
jam-jam mereka menunggu tak juga terlihat sosok Debi muncul.
”Syer...Kok
jam segini belum pulang juga..?” Ivan dengan penasaran sambil menoleh-noleh
kesamping seperti mencari sesuatu.
”Nggak
tau tuh. Sebentar coba aku liat di kelasnya.” tumbur Syerli seraya ia melangkahkan
kaki menuju kelas Debi. Lumayan jauh dari sana. Ivan menghirup Teh Botol dan membuka
bungkus rokok. Ia menghisap dalam-dalam rokok Malboro, sambil memutar-mutar
batang rokok dan sesering mungkin ia menghisap mencerminkan betapa bosan
menunggu itu. Untung saja jadwal hari ini kosong dan kuliah juga kosong.
Syerli
teriak dari jauh,
”Udah
pulang..!” sambil ia mendada-dadakan tangan sebagai isyarat kalau tidak ada
yang ditunggu itu.
”Hah....Udah
pulang.” ia meyakinkan kembali seperti tidak percaya. Syerli mendekat dangan
mengulang perkatannya tadi. Rasa kesal Ivan meuak-muak dengan emosi tinggi.
Dalam hatinya berkata “Ah..ya udah kalau
dia ngajak begituan aku juga bisa. Masih banyak cewek yang lain, emang dia saja
yang cantik.”
”Yuk...pulang
biar gua anter.” ia mengajak Syerli untuk bergeser dari tempat membosankan itu.
”Asiiiiik....gitu
dong...” dengan gembiranya Syerli sambil meloncat-loncat di kantin itu. Banyak
orang yang memandangnya.
****
from : Debi 19:17:32
Van...
aq tau kok klu qm tadi jmput Syerli.itu pcar
Baru
qm ya..? smga happy aja dg
Nya
n’ abadi tdk sprt kta.
Malam yang dingin menyambar disertai tuduhan dari ponsel dengan pengirim
orang yang sangat disayanginya.
To : Debi 21:26:15
Kalu
itu mau mu. Ya sdh kta
Bubar
aja....da2
“sent”
Dengan
sangat singkat dan penuh makna ia membalas SMS dari Debi. Diliputi emosi,
baginya tidak bisa lagi dipertahankan hubungan seperti ini.
Debi
sambil memeluk bantal gulingnya terus menangis. Dalam hatinya Ivan benar-banar
menjalin hubungan dengan Syerli teman akrabnya itu. Ia semakin benci saja dangan
Syerli, memang dari dulu ia tidak begitu suka alias curiga diantara Syerli dan
Ivan ada unsur tertentu. Meski itu tidak benar adanya namun sepengetahuannya,
itu hal yang akurat.
Ivan
duduk di depan teras sambil menghisap sebatang rokok dengan nikmat. Tak ada
seberkaspun keruatan dalam hati sang pria tinggi dan wajah tampan. Perempuan
mana yang tak menoleh jika ia lewat di hadapannya. “Jangan kan perempuan yang
menoleh Nenek tuapun senyum” kata lagu Iwan Fals.
Esok
harinya Debi berangkat sekolah dengan lemas, diantar oleh Ayah sambil berangkat
kerja. Sesampainya di depan pintu gerbang Syerli sengaja menunggu, tampak dari
jauh. Syerli hanya mau bilang kalau kemarin Ivan nunggu sampai kering. Tapi, ia
malah sengaja menghindar supaya ia tidak emosi saat menghadapi Syerli. Syerli lebih
dulu melihatnya, sehingga dengan segera ia mendekati Debi terlihat mampir di kanatin.
”Debi....Mat
pagi..!” ia mendekati Debi sambil mengacungkan tangan. Namun apa yang ia dapat
Debi malah memalingkan muka tanpa menyambut atau menjawab ucapan selamatnya.
Tapi, Syerli memang terkenal rame, bukan malah tersinggung, ia malah duduk di sampingnya
sambil menanyakan masalah apa antara dia dan Debi. Debi pergi begitu saja tanpa
menoleh dan tanpa mengatakan sepatah katapun dari bibir merah cemberut.
Semakin
bingung saja ia melihat Debi seperti itu. Tapi ia dapat inisiatif kalau ia
tanya saja dengan Ivan, sepertinya dia tau mengapa Debi bertingkah seperti itu.
Ivan dengan detailnya menceritakan tanpa dirubah atau memupuknya. Syerli sangat
heran mendengar itu semua. Ia ingin menjelaskan langsung pada Debi bahwa itu
semua kesalah pahaman saja. Debi tak merespon.
****
BERSAMBUNG..... Terbit tiap hari...
No comments:
Post a Comment