Saturday, January 10, 2009

Inginkan Bahasa Sunda Yang Enak Didengar

Oleh: Moel


Bandung adalah kota yang sangat indah nan elok. Siapa yang belum kenal dengan selogan kota kembang? Hampir semua tahu. Bahkan Bandung banyak yang mengatakan sebagai kota miniature benua Eropa. Sungguh menakjubkan bukan. Seni berbahasa sunda juga menjadi icon yang kental namun seni bahasa sunda tidak hanya Bandung, bisa di bilang Jawa Barat sebagai tanah sunda. Meski sekarang ini berbahasa sunda sedikit menurun peminatnya, untuk kalangan pelajar SMP dan SMA juga Mahasiswa. Ini desebabkan tak lain adalah tren bahasa. Dimana sebuah kata gaul yang menjadi kiblat anak remaja sekarang ini.
Pada dasarnya bahasa sunda adalah bahasa yang sangat lembut, halus dan sejuk didengar telinga. Sampai banyak pendatang dari daerah lain mati-matian belajar bahasa sunda, supaya perkataan yang keluar dari mulut mereka terdengar merdu meski logat aslinya mesih medok. Ini menandakan bahwa bahasa sunda adalah bahasa yang mengasikkan. Tapi ada satu tanda tanya besar di kepala, mengapa orang sunda sendiri banyak yang tak mau lagi berbahasa Sunda? Dan jika ada yang mau kebanyakan memakai bahasa sunda yang kasar.
Remaja saat ini telah teracuni oleh virus bahasa yang terdapat dalam sinetron-sinetron. Bahkan tidak hanya bahasa pakaianpun juga, sampai dengan gaya hidup. Jika hanya pemakaian bahasa saja itu sepertinya belum gaul bagi mereka. Dan perlu ditambah dengan penampilan meski harus memaksakan diri.
Memang kita berdiri di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang mempunyai bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia, tetapi bukan berarti kita tidak bolah berbahasa daerah atau sampai tak bisa bahasa daerahnya sendiri! Melainkan keunikan Negara Indonesia adalah dengan beragam budaya dan beragam pula bahasanya. Indonesia terkenal sekali dengan keragaman, apakah Negara ini akan kehilangan keterkenalan itu? oh… tidak tentunya.
Enak Didengar
Pertama sekali saya mendengar bahasa Sunda lembut dan indah sekali. Kelembutan dan lekukan setiap nada yang terlafalkan seperti sedang bersenandung. Terniang dalam telinga dan terasa keindahannya. Sekarang ini pengguna berbahasa yang seperti senandung itu hanya terdengar dari para orang tua atau anak muda yang benar-benar memahami kesantunan berbahasa. Sangat tidak banyak.
Icon berbahasa sunda terkadang menjadi seperti bisul dikalangan remaja. Bahkan ada yang mengatakan kalau berbahasa sunda memalukan, mirip orang kampung dan lainnya. Padahal berbahasa yang baik, adalah “cerminan kesopanan dan berbudi luhur.” Itu benar bukan hanya selogan yang tertulis di buku-buku saja. Jika dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari kita akan merasakan hal itu.
Keenakan bahasa sunda diataranya: pertama, kelembutan bahasa, sampai terkesan kalau orang yang berbahasa sunda halus tak pernah marah. Kedua, bahasa yang memiliki banyak tingkatan untuk berbagai kalangan sehingga tak membuat seseorang tersinggung dan tak membuat seseorang merasa di rendahkan. Tentunya tetap enak didengar. Ketiga, kesopanan. Bila seseorang menggunakan bahasa sunda dengan lembut (lemes), tentu tingkah lakunya sopan.
Telah Luntur
Kemana sekarang bahasa yang indah itu? timbul pula pertanyaan seperti ini bila kita masuk diwilayah-wilayah kampus dan jalanan. Bahasa yang indah itu telah terseret kepada era serba gaul. Dari bahasa yang lembut menjadi kasar dan terdengar janggal di telinga. Bahasa yang lembut nan elok kini telah ganti dengan kekasaran dan ucapan tak enak di cerna alat dengar kita.
Penggunaan kata yang jorok dan penuh umpatan selalu terlampir disetiap ujung kalimat. Ini telah menjadikan bahasa sunda tak mengesankan keramahan dan kecantikan. Janggal sekali memang. Bisa dibilang orang yang baru menginjak tanah sunda akan berfikir bahwasanya kota kembang itu memiliki bahasa tak tersaring. Sampai suatu ketika seorang perantauan yang sedang singgah di tanah sunda di tanya oleh sobat barunya, “Apakah kamu menemukan suatu hal baru di tanah sunda? Ia pun menjawab dengan simple. Di sini banyak anjing, hampir setiap orang berbincang selalu ada kata itu.” ini sangat membuat tak nyaman bukan?
Bila kita menginginkan suatu bahasa yang baik dan enak didengar itu tak hilang, tentunya kita yang akan memulainya. Tapi terkadang kita mengajarkan bahasa sunda kepada pendatang (perantauan), malah bahasa yang kasar. Sedangkan pendatang tentunya tak mengerti bahasa yang halus bagaimana dan bahasa sunda kasarlah yang mereka bisa. Ini sungguh di sayangkan.

3 comments:

restu said...

kalo gitu mari kita berbahasa sunda di tanah sunda....

www.ruangsunyi.multiply.com

diskusi-pajak said...

siap!!! meski saya bukan orang sunda tapi di usahain.

desi fatma said...

kalau gitu kapan lagi kita berbahasasunda yang baik dan benar... ya ga!!!!

S i n o p s i s Novel: Mencari Aku Waktu Dan Rahasia Dunia

Mencari Aku, Waktu, dan Rahasia Dunia adalah judul dari novel ini. Novel ini menceritakan tentang seorang anak muda dalam proses pencarian. Tokoh utamanya adalah ‘Aku’ dengan nama Fajruddin Saleh bin Tjik Saleh dengan karakter pemuda yang idealis dan memiliki seorang kekasih yang berbeda kepercayaan (ia memanggil kekasihnya itu si Manis, nama aslinya Resita Maulia). Tokoh utama adalah seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi Jurnalistik di salah satu universitas di Bandung yang sedang bercerita tentang bagaimana jika ia telah memperoleh gelar sarjana nanti. Ia sedang menjawab sebuah pertanyaan dari temannya (Ivan), di sebuah Pantai Kuta Bali. Novel ini banyak menggunakan pengibaratan, ini kutipan paragraph di dalamnya: Sekarang siang sudah terbentang seperti bioskop yang baru selesai filmnya. Byar...! nyala lampunya. Terang jadinya. Sedangkan orang yang sedang bercumbu langsung berusaha bertingkah seperti orang baru pulang dari masjid, kaki-tangannya langsung kembali kehabitatnya dan buru-buru mengancing segala kancing, celana juga baju. Merapikan rambut yang sama-sama kusut, tak jelas penyebabnya. Mengelap seluruh bagian tubuh yang basah, tak tahulah kalau bagian lain yang basah, di elap atau dibiarkan. Hussss... adegan kegelapan sudah usai! Mirip sekali perbuatan itu dengan penumpang dalam bus ini, ada yang mengusap air liur yang meleleh dibibir, ada yang memoles-moles mata belekan, dan merapi-rapikan rambut yang kusut dan baju yang semerawut, dikancingnya kembali. Masa tidur telah usai. Mau tahu kenapa? Sebab banyak orang menggunakan kegelapan sebagai ajang aji mumpung! Mumpung orang tidak tahu. Mumpung orang tak ada yang lihat, saya boleh melakukan apa saja, dll, dan dll. Maka terjadilah....adegan setiap kegelapan datang. Tokoh utama akan pulang kampung bila telah selesai kuliah nanti karena tak mampu untuk terus menyandang status pengangguran. Nah, dalam perjalanan pulang itu ia memperoleh banyak pengalaman dari seorang fotografer, seorang wanita yang sudah berkeluarga, keluarga perantauan dan seorang petualang. Pada setiap pertemuan ia selalu ngobrol dan bercerita. Jadi novel ini mengisahkan bercerita lalu dalam cerita itu ada lagi cerita. Jidi, novel ini sengaja ditulis dengan penuh canda, kata-kata yang lucu dan terkadang terdengar norak dan canggung di telinga. Sebab saya ingin menghibur, agar setiap pembaca dapat tertawa di samping keseriausannya mengolah semua pesan yang tersirat dalam isi novel. Bukan hanya itu saja isinya, tokoh utama juga meneruskan ceritanya dengan Ivan dengan lamunan. Dalam lamunan tokoh utama ia setelah di kampung halaman, ia mendirikan sekolah gratis untuk buta huruf. Dan sampai ia bekerja di sebuah instansi pemerintahan, kemudian ia kembali lagi ke Bandung untuk mencari impiannya. Ending dari novel ini sengaja saya buat menggantung, agar pembaca yang meneruskan kisahnya… Pesan yang ingin saya sampaikan dalam novel ini yaitu:  Sebuah kisah perjalanan. Disana saya ingin sekali menggambarkan bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan dan penuh pencarian. Pencarian didunia ini tak lain adalah pencarian kepuasan. Sebab, kepuasan adalah tingkat teratas dari semua level pencarian. Adakah seseorang memperoleh kepuasan? (sudah punya motor ingin mobil, punya istri satu pingin dua dan sebagainya), dan disetiap pencarian tak luput dari sebuah perjalanan baik itu perjalanan sebenarnya atau hanya perjalanan pikiran.  Saya juga ingin menyoroti masalah lapangan pekerjaan dan pengangguran di Negara kita yang tercinta ini. Ada satu anekdot “Yang ahli dan bahkan sarjana saja pengangguran apa lagi tidak sekolah dan tak ahli” lapangan pekerjaan di Indonesia memangsungguh sulit. Dan bahkan tingkat pengangguran semakin hari semakin mertambah.  Pendidikan gratis buta huruf. Saya ingin menyinggung tentang pemerataan pendidikan di Indonesia. Sebab banyak daerah terpencil di Indonesia masih belum tahu huruf alias buta huruf. Contoh di wilayah Papua berapa persen orang yang dapat membaca dan menulis?, lalu di wilayah Jambi ada yang dinamakan Suku Anak Dalam (Kubu), nah suku ini bisa dikatakan, orang yang tak terjamah oleh huruf. Masih banyak sekali penduduk Indonesia yang tak dapat membaca dan menulis sebenarnya.  Tokoh utama kembali lagi kekampung dan setelah itu kembali lagi ke Bandung. Itu adalah pesan yang sangat dasar, bahwasanya kehidupan adalah sebuah siklus waktu. Dimana ada kelahiran ada pula kematian, dimana ada kejayaan juga ada keterpurukan.