Oleh: Mulyadi Saputra (Moel)
Bagian 11
Jujur Itu Pedih
Sehabis diskusi ia langsung beranjak
pulang. Diperjalanan ia teringat dengan Sari. Ia tak pernah memberi kabar
seakan-akan ia mengngantungkan perasaan orang lain. Ia juga berpikir kalau saja
itu semua terlimpah padanya pasti itu juga membuat setres. Ia berhenti disebuat
rumah makan Padang. Sambil menunggu hidangan diantar oleh pelayan ia menarik
ponselnya.
Oleh: Mulyadi Saputra (Moel)
Bagian 10
Kebetulan
Sama
Gugun
dan Sonny sekarang sedang pergi ke Mall. Mereka sedang happy-happy dengan Nania dan Dian yang selalu mendampingi mereka.
Meski Sonny bukan seorang model tetapi ia bisa meluluhkan wanita model seperti
Dian yang sebegitu cantik dan sebegitu menawan. Susah diungkapkan dengan
kata-kata. Gandengan tangan yang erat dari masing-masing pasangan menghanyutkan
waktu. Merekapun membeli tiket bioskop. Ingin nonton Film yang sedang marak
diceritakan oleh kalangan penggemarnya.
Oleh:
Mulyadi Saputra (Moel)
Bagian 9
Diary
Panas
matahari siang menyengat, udara juga ikut terbawa masuk kepori-pori tubuh.
Begitulah suasana siang itu disebuah pintu Tol Mohammad Toha siang itu. Ivan
bersama kedua orang tuanya dari Ciwidey. Sebuah tempat yang sejuk di daerah
Jawa Barat, sangat terkenal dengan pemandian atau kolam renang yang berair
panas alias pemandian panas. Senganja mereka lewat Tol Mohammad Toha untuk
menghindari macet. Jika lewat Kopo hari minggu seperti ini pasti macet,
bisa-bisa sampai rumahnya malam. Meski rumahnya lebih dekat dari sana.
Bagian 8
Untuk Teman
Bersantai
di kamar sambil baca buku adalah yang sangat mengasikkan bagi pemuda satu ini.
Alunan musik dari sebuah winamp pun memboyong damainya suasana kamar itu. Lampu
di meja itulah yang menjadi saksi.
Ivan
memang gemar membaca, apalagi itu berbau sastra seperti Novel, Cerpen dan
Puisi. Kemudian ia beranjak mendekati Tape yang mengumandangkan lagu.
Telunjuknya pas di tombol power. Mati. Seketika terasa sepi, namun ia kembali
duduk di meja belajar. Lalu ia menjamah
Bagian 7
Pagi Yang Hilang
Ibunya
beberapa kali bertanya selama ini ia di mana..? begitu banyak telpon yang masuk
banyak sekali bertanya tentang Ivan yang menghilang begitu saja.
“Aku pengen ngilangin
setres Bu, refreshing....” ucapnya sambil memakai handuk, hendak mandi
sepertinya.
Sang
ibu hanya senyum.
Bagian 6
Camping
Terang-benerang
malam itu. Di samping bulan yang membundar seperti bola ditambah kerlap-kerlip
bintang. Angin yang datangpun terlalu bersahabat meski membawa dingin namun
menyimpan keromantisan tersendiri. Kebisingan kota sangat jauh, polusi udara
juga terjaga.
Memang
suasana gunung seperti ini pasti didambakan banyak remaja. Begitu pula ketiga
remaja yang sekarang ini sedang menyusun kayu untuk dibakar sebagai penghangat
badan sekaligus sebagai alat untuk merebus air. Dino,
”Van,
ambil kopi di ransel gua.” Sambil ia berusaha menyalakan korek api. Ivan dengan
kegelapan meraba-raba tas yang tadi terimpan manis dipojok
Oleh: Mulyadi Saputra (Moel)
Bagian 5
Cinta Vs Dusta
Janji muluk Ivan sangat di dengarkan oleh Heni. Seperti
tidak tahu gombalan cowok saja. Padahal permintaan-permintaannya sangat jarang
sekali di kabulkan oleh Ivan. Jalan-jalan, nongkrong di kafee sampai minta
antar ke suatu tempatpun selalu tak pernah dituruti Ivan. Alasan
bermacam-macampun terkeluar darinya. Heni sepertinya sangat waspada sekali
dengan kalau pacarnya akan berubah dalam waktu yang sebentar. Seperti yang
diungkapkan salah seorang tokoh “Bila kita memperoleh sesuatu dengan mudah
maka, akan mudah pula hilang dari kita.”
Sama
halnya Heni mendapatkan Ivan. Sangatlah mudah, sekali saja ia dekat dengan Ivan
dengan menjual bagaimana kemolekan tubuh dan lentik jarinya, hati Ivan dengan
mudah terkobar dan menyambar seperti petir.
Sesal
Heni tidak terkira saat ia merasakan kebohongan dari orang yang sangat ia
Oleh: Mulyadi Saputra (Moel)
Malam yang cerah telah berlalu dengan
gesit. Gemerlap bintang telah sirna tertumbur oleh sorot matahari yang begitu
tajam melesat menembus celah-celah bumi. Bayang-bayangpun terlihat jelas
kembali. Datang dan pergi sepertinya hal yang tak asing begitu kita merasakan
antara malam dan siang. Aktivitas mulai berjalan, begitulah perputaran yang
sebenarnya. Takluput bagi sekelompok maha siswa seperti Ivan dan semuanya.
Suara mobil yang meraung-raung terdengar dari dalam
garasinya.
From : Sari 06:12:28
Mat pagi Van....
Udh Bgn blm..?
Kuliah nggk hri ini.
Muach...
Sambutan pagi telah menyapa. Begitu bahagia
membacanya, apa lagi orang yang sedang dilanda badai cinta seperti
Oleh: Mulyadi Saputra (Moel)
Bagian 3
Oleh-Oleh Jakarta
Fashion Show, itu adalah bagian dari
kehidupan model. Tidak aneh kalau mereka terus menjalani provesi yang tidak
begitu membuat capek itu. Lampu gemerlapan adalah dunianya. Sepertinya
pengunjung pada acara kali ini sudah mulai berdatangan. Ivan merasakan seperti gugup, ia seperti tidak
pernah saja diperlihatkan pada banyak orang seperti ini.
Mereka berkumpul diruang tunggu bersama
model-model yang lain dari Bandung maupun dari Jakarta sendiri. Ia terus
melirik seorang perempuan asal Jakarta yang duduk bersama ketiga teman
modelnya. Lumayan centik, dengan hidung mancung mata sedikit liar, perawakan
langsing, tinggi semampai dan rambutnya lurus, mengusung Ivan untuk terus
memperhatikannya.
”Rada
mirip Debi
Pagi
pun begitu dingin dengan embun yang menutupi jarak pandang dan kesejukan
menembus keseluruh tubuh. Ivan duduk di teras belakang sambil menikmati
indahnya pagi dengan sebatang rokok Malboro.
Seraya Ibu memanggil, mengajak sarapan bareng dengan Ayah yang sebentar
lagi akan berangkat ke kantor. Ia beranjak dengan menjelentikkan rokok dari
jemarinya.
Ayah
senyum menyapa pagi dengan lembut. Ivan pun membalas dengan duduk pas di kursi
lipat. Ayah hanya diam mengambil sepotong roti dan menampalkan keju di atasnya.
“Van...Ayah
mau ngomong dengan kamu. Kamu boleh punya
Bagian 1
Jejak
“Van, elo yang bener dong.... kita temenan
bukan sekarang-sekarang aja, dari dulu Van...! gua nggak seneng dengan cara elo
ngomong,” Ucap Andi setelah jengkel karena ia merasa diremehkan Ivan. Mulutnya
telah kecut untuk memuntahkan kata-kata panas itu. Harga diri bukan bagaimana
orang menginjak harkat martabat saja, tapi juga bagaimana orang meremehkan kita
seakan-akan kita seorang yang menerima keajaiban alam untuk menolong. Mustahil.
Tuhan memang Maha Penyayang, tapi ia takkan menurunkan pertolongan dari langit
seperti jaman dahulu. Mukjizat katanya.
“An...An....elo
jangan sensitif gitu dong...Gua cuma canda lagi...” cengkal Ivan membela
dirinya.
“Ah...Gua
bosen ngomong ma elo....” Andi seraya pergi meninggalkan Ivan begitu saja. Ivan
menarik-narik tangannya namun ia malah menampik dan diperlihatkan
kejengkelannya. Raut mukanya sangar.
“Ah....resek
elo
Ardi adalah sosok orang
yang terkenal jeniusnya. Suatu hari ia sakit parah dan dirawat di rumah sakit.
Ia telah merasa kalau umurnya tidak lama lagi. Pada saat istri dan anaknya
berkumpul ia berwasiat,
“Nanti kalau datang waktu Bapak di ambil oleh Allah,
kuburkan Bapak dengan kain kafan yang sudah jelek saja.” Ucap Ardi
tersengal-sengal… seluruh orang yang berada disitu terharu dan menangis….
Tibalah hari dimana
Allah mencabut nyawa Ardi… seluruh keluarga
Oleh: Mulyadi Saputra
Secangkir
kopi hangat selalu menyertai disetiap diskusi pendek. Tanpa kopi diskusi takkan
berjalan dengan normal. Kata-kata itu selalu muncul untuk memulai perkumpulan
atau duduk bareng sambil diskusi. Empat pria itu selalu kumpul disetiap selesai
kuliah (mata kuliah) atau jam-jam kosong dan juga sewaktu malas masuk dengan
mata kuliah hari itu. Mereka sering menyebutnya sebagai matakuliah ketiga.
Duduk,
nongkrong, ngobrol, diskusi, canda, tawa, ide, solusi, muncul disebuah kantin
umum di depan fakultas disalah satu perguruan tinggi pinggiran tempat mereka
kuliah. Begitu juga kopi sebagai teman sejati yang mengiringi pembincangan asik
hari itu. Mungkin tidak asing lagi dikalangan muda jika berkumpul terus minum
kopi. Jangan salah obrolan warung kopi atau kantin lebih banyak diserap oleh
otak dari pada belajar di dalam kelas dengan suasana yang formal (tapi ingat
ini tidak berlaku untuk semua orang). Mungkin itu dikarnakan kita bebas ketika
berpendapat tanpa malu. Kita sekeritis mungkin mengungkapkan pandangan tanpa
harus segan dan siapapun akan boleh ikut alias terbuka. Bisa minum kopi,
merokok dan bercandapun tidak salah dan dimarahin.
Dani,
Restu, Yadi, Yoko. Sosok lajang
Oleh: Mulyadi Saputra (Moel)
Saat Udin ingin pergi merantau ke
Jakarta Ibunya membekali pesan yang akan jadi tumpuan hidup di kampung orang
bagi dia.
Ucapan itu yang terdengar
di telinganya pagi itu.
“Din…hati-hati di sana. Raihlah cita-citamu.
Jadilah orang yang berguna.” ia bersalaman dan mencium tangan Ibunya. Sunarti
sangat sedih sekali karena dia adalah anak semata wayang. Ibunya berbisik
sedikit terputus dengan isakan tangis kecil yang tak kuat lagi ia tahan.
“
Oh…Tuhan berilah anakku keselamatan, jadikan ia