Friday, January 4, 2013

Dosen Malas

Oleh: Mulyadi Saputra (Moel)


Dosen malas ini ngajar disuatu kampus negeri yang sebenarnya banyak banget mahasiswanya dosen itu bersetatus honorer dan ia ingin dapet gaji aja tapi bermalas-malasan ngajar. Dia tidak sama sekali memikirkan mahasiswanya yang sebenarnya sangat membutuhkan pengajaran sebagaimana mereka belajar dengan dosen-dosen lain.
Pada siang itu seluruh mahasiswa di Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi, menunggu dosennya masing-masing. Mereka berada dikelasnya juga menunggu dosen. Tapi, dijurusan Akuntansi yang paling lambat dosennya masuk. Mereka penasaran dengan dosen

Thursday, January 3, 2013

Sepucuk Bunga di Tengah Laut

Oleh: Mulyadi Saputra (Moel)




Siapa sangka kehidupan seorang paranormal itu cuma berakhir disini. Ia yang dulu sibuk dengan berbagai tugas menyembuhkan penyakit kronis dengan bantuan sesajen yang terus berasap kemenyan di pojok kamarnya yang redup remang. Hilir mudik pasien dengan membawa sesyaratan datang memohon dan menghamba. Sulista itu mati dengan tragis di bawah pohon dekat rumahnya. Semua orang terkejut mendengar berita kematian itu, namun Darwoto adik kandungnya sendiri hanya masam muka.
            Darwoto terkenal tak pernah mempercayai hasil kerja Kakaknya, ia malah bilang ”Tak ada yang maha penyembuh

Saturday, December 29, 2012

Tetesan Air Mata Ibu

Oleh: Mulyadi Saputra (Moel)

         Saat Udin ingin pergi merantau ke Jakarta Ibunya membekali pesan yang akan jadi tumpuan hidup di kampung orang baginya. Ucapan itu yang terdengar di telinganya pagi itu.
         “Din…hati-hati di sana. Raihlah cita-citamu. Jadilah orang yang berguna.” Ia bersalaman dan mencium tangan Ibunya. Sunarti sangat sedih sekali karena Udin adalah anak simata wayang. Ibunya berbisik sedikit terputus dengan isakan tangis kecil yang tak kuat lagi ia tahan.
         “ Oh…Tuhan berilah anakku keselamatan, jadikan ia orang yang berguna nantinya, kabulkanlah apa yang tersirat di benaknya.” Saat itu sang Ibu meneteskan air mata dan mengenai kepala Udin.  
         Sang Ibu terus melihat kepergian anaknya sampai termakan oleh tebalnya

Wednesday, December 26, 2012

Warok Kena Butunya

Oleh: Mulyadi Saputra (Moel)



Disuatu kampung hidup seorang yang sangat disegani karena kehebatan ilmu kanuragannya dan ia juga kebal dari berbagai senjata. Seluruh penduduk takut dan segan padanya, sangking segannya suluruh penduduk setiap berjumpa si centeng itu menegur dengan nama panggilannya “Warok”. Sebab kalau tidak menegur takut bisa dicincang… oleh golok di pinggang si Warok.
Setiap ia mendengar panggilan “Warok”, dengan bangga ia berdehem sambil mengelus kumisnya yang panjang sampai jenggotnya dengan tangan kanan.
Dimanpun penduduk bertemu Warok, mereka harus menyapa dengan “Warok”. Si Warok pun lasung “Ehm…” tangannya mengelus kumis sampai jengkot. Begitulah seterusnya.
Sampai suatu ketika ada seorang remaja sedang berjalan sendiri lewat samping rumah si Warok tersebut. Ia melihat kepala dan setengah badan Warok sedang serius dengan kerjaannya. Si Warok sedang buang air besar rupanya…. WC si Warok memang tidak tertutup semua, dan itu sudah biasa di kampung itu, WC dengan dinding setengah badan. Pemuda itu terlihat bingung, ia mau

Monday, December 24, 2012

Cinta Berdarah

Oleh: Mulyadi Saputra


Beberapa kali ponselku berbunyi, begitu aku berbalik arah, aku teringat akan tugas  yang di berikan oleh Pak Ardi seminggu yang lalu dan harus dikumpul besok. Kubaca satu demi satu sms yang telah masuk, semuanya menanyakan tugas dari Pak Ardi. Ada yang minta dikirim lewat email, sampai ada yang  pesan  sudah jadi alias tau beres. Memang aku terkenal rajin mengerjakan tugas dan kalau tugas seperti itu aku telah selesai beberapa hari yang lalu.
Pagi yang cerah menyambutku dengan sorot matahari yang penuh dengan kehangatan. Aku sengaja berangkat siang supaya mereka yang menunggu hasil tugas saja akan bingun dan cemas.
“Misi...Pak, boleh masuk.?” ucapku sambil

Friday, December 21, 2012

Pak Haji VS Pendeta

Oleh: Mulyadi Saputra (Moel)

                          
Disuatu sore Pak Haji mau pulang dari pengajian. Ia mau naik kendaraan umum.
“Bismillahirrahhmanirrahim”  kata Pak Haji sambil melangkahkan kaki naik keatas bis.
Didalam bis itu ada seorang pendeta yang baru pulang dari gereja pula… dan Pendeta itupun meralat
“Bis kota Pak…” Pak haji diam saja tanpa komentar…
Cuaca hari itu mendung mau hujan. Lalu terlihat kilat petir menyambar. Pendetapun terkejut dan reflek mengucap  “Haleluya…” dengan sigap pula Pak Haji meralat… “Halilintar Pak…”
Ha…ha…ha…ha…

Thursday, December 20, 2012

Orang Pelit

Oleh: Mulyadi Saputra (Moel)



Pak Udin adalah seorang petani dari sumatera yang merantau ke daerah Bandung, ia bertani buah-buahan. Sore itu ia hendak pulang dari kebunnya menuju rumahnya yang tidak jauh dari situ. Sebelum pulang ia memetik mangga karena sedang musim mangga kali itu. Pada saat di jalan ia bertemu dengan penduduk peribumi sedang duduk-duduk ditepi jalan,
Pak Udin              : “Permisi Pak…” ucapnya seraya membungkukkan badan.
Warga                  :   “Mangga...”
Pak Udin              : “Wah… Bapak tahu aja kalau saya bawa mangga” lalu ia memberi beberapa biji kepada orangt-orang tersebut… padahal Mangga dalam bahasa sunda yaitu artinya silahkan… tapi Pak Udin tak tahu artinya karena ia asal Sumatra.
Keesokan harinya ia masih memetik Mangga lagi karena memang musim mangga waktu itu. dan kejadian seperti kemarin terulang lagi. Ia harus bagi-bagi mangga meski tak ikhlas.

Monday, December 3, 2012

Cinta Terjatuhkan

Oleh: Mulyadi Saputra (Moel)

Aku sedang asik membaca sebuah majalah di ruang tamu. Sendirian. Isi majalah beraneka ragam tentunya, dari artikel, kolom, berita, feature, iklan sampai dengan cerpen. Dan sedari tadi aku menghayati cerpen yang mengharukan ini. Mengisahkan sebuah cinta… cinta yang terjatuhkan. Kadang aku tergeleng juga tersenyum sedih…
Cinta… Cinta…. Cinta… siapa yang tak kenal dengan kata yang terdiri dari lima huruf itu. Bahkan sejak TK sudah dikenalkan. Cinta kepada orang tua, teman, saudara, guru, pokonya cinta telah tumbuh sejak lahir sepertinya. Dari zaman kenabianpun telah ada meski mereka tak tahu kalau perasaan itu sekarang diberi nama c-i-n-t-a. Ingat sekali sewaktu kakek mendongengkan kisah anak dari Nabi Adam (Khabil-Khobil) darah manusia yang pertama kali mengalir diakibatkan oleh cinta, yang terus merembet kepada dengki, iri, dan pembunuhan. Ingat pula kisah Nabi Yusuf yang difitnah mau memperkosa sampai dia masuk dalam penjara, dan itu karena cinta juga. Berarti cinta punya banyak mengundang hal-hal negatif, tapi jangan salah… cinta juga dapat mengundang pada hal kebaikan. Karena kita cinta dengan sesama maka ada rasa kasihan dan saling membantu, Iya khan?

Sunday, December 2, 2012

Manusia Jalan

Oleh: Mulyadi Saputra (Moel)


Sliwar-sliwer kendaraan tak pernah ada hentinya dari mulai matahari terbit sampai rembulan tersenyum, terus ada yang menyenangi aspal hitam. Entah apa yang mereka cari dari ngebut sampai pelan-pelan. Tidak mungkin tak ada keperluan penting jika malam hari seperti ini. Lampu jalan terus bercahaya menaungi derasnya arus angin malam. Dingin, sejuk terus menusuk dari kulit dan lubang fori-foriku.
Aku sendiri berjalan menuju rumahku, terlihat anak-anak jalanan sedang asik bercanda dan tawa dengan kabut malam. Liku-liku jalan terus mengarungi bagaikan wahana yang terukir tajam. Lampu lalulintas hanya berkedip kuning saja pertanda “Hati-hati”.

Saturday, December 1, 2012

Bus kota

oleh: Mulyadi Saputra

Bus Kota telah ngetime di terminal yang tidak jauh dari kosku. Aku menuju kesana dan setelah sampai aku langsung naik dengan penuh semangat mencari tempat duduk yang masih terlihat kosong. Aku duduk tepat di tepi jendela samping kanan. Semakin bersesak saja Bus Kota yang lebih dikenal Damri di Kota Kembang. Lebih tersohor dengan kembangnya yang begitu cantik-cantik dan menawan.
Disampingku duduk seorang Ibu setengah baya. Senyum ia padaku. Kugeser sedikit pantatku meski lututku tertumbur kursi yang ada di depanku. Temanku pernah bilang itulah resiko orang tinggi tapi, aku lebih mengikuti pendapat Restu temanku juga ia berpedoman kalau perakit Bus inilah yang salah mengukur jarak kursinya.
Berjalan Bus Kota dengan perlahan-lahan, maklum penumpang yang begitu padat dan umur Bus itu sepertinya lebih tua dariku. Kumulai dari pertama dengan renungan singkat yang tak berarti. Terdengar suara nyanyian dari pengamen yang menghibur dengan harapan mendapat koin sisa pembayaran Bus. Crek…Crek…Cerk bunyi Recehan yang berpusat dari kondektur. Kualungkan tangan yang terselipkan uang sebagai pembayaran.
Keramain kota terlihat dari padatnya pengguna jalan hari itu. Terkadang macet dan terkadang berhenti menurunkan penumpang atau ada penumpang yang naik. Desak-desakan mulai terlihat dari beberapa orang yang tergantung dengan tangan memegang besi melintang diatas kepala. Disalah satu lampu merah, kepadatan kendaraan mulai terjadi. Kulihat mobil-mobil yang pas dibawahku.
Sekejap terlihat mobil Mersi dengan sopir seorang cewek yang tidak begitu cantik, ya..lumayan poin enam pasti diraih, namun mobilnya terlihat mengkilap seperti kumbang yang habis disemir. Aku ingin sekali menggodanya waktu itu. Sampai aku coba membuka jendela Bus yang kutumpangi. Tapi aku berpikir dua kali aku yang naik Bus kota menggoda bermersi ya...tidak levellah.
***

Prinsip Yang Rapuh

"Kerapuhan" Foto: Mulyadi Saputra/objek: Nagrek Indonesia
Oleh: Mulyadi Saputra (Moel)


Ponsel di tangan kananku terus bergonta-ganti menu aplikasi. Phone Book sampai Game. Tapi bukan mau menelpon atau mau menulis pesan singkat, melainkan ketidakadaan kerjaanku sore yang tak indah ini. Mau sms bingung yang akan kutuju siapa? Bukan karena tak punya pulsa. Mau iseng kepada perempuan rekan kerja di kantor, aku tak suka padanya dan dia juga sama sepertinya. Bisa dibanting ponselnya karena sangking kagetnya dan bakalan menjerit kencang, sampai satu RW datang mengunjungi.
            Masalahnya malam ini malam minggu. Aku tak punya jadwal bercinta dan bahkan sudah lama aku lupa kalau malam yang kulalui itu malam minggu. Telah kuubah menjadi sabtu malam dan malam senin, jadi tak kujumpai malam minggu dalam satu minggu. Padahal kepenatan kerja selama satu minggu seperti ini akan hilang bila punya pujaan hati untuk di ajak bercanda, bercerita, dan bahkan berdebat sekalipun gara-gara pesan menu makanan saat diner. Semua akan mengasikkan. Sering kali aku mendengar cerita dari teman-teman sekantor tentang asiknya melebur kepenatan dengan pacar, istri, anak, pokonya aku menjadi korban pendengar sejati setiap acara cerita itu telah dapat aba-aba “START”.
*

Friday, November 30, 2012

Untuk Kelasku & Negaraku



 Oleh: Mulyadi Saputra (Moel)
            “Rani, bangun udah pagi…!” Seru Ibu untuk membangunkannya dari mimpi yang indah pagi itu. Sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar. Namun Rani belum juga bangun, ia masih meneruskan mimpi diatas kasur dengan sepray bergambar boneka Barbie warna kekuning-kuningan.  “Rani, bangun … Sekolah nggak…!” Kini Ibu sedikit keras.
            “Iya….Iya….sebentar.” Sahut Rani sambil berjalan malas menuju pintu kamar. “Jam berapa Bu ?” Tanyanya dengan suara lembut dan tangannya sambil mengucek-ngucek mata, sepertinya ia masih ngantuk sekali.
            “Udah jam enam. Langsung mandi, nanti telat lho.” Ibu beranjak pergi dari hadapannya. Ia pun masuk kekamar kembali untuk mengambil handuk. 
            “Cepat mandinya, jangan pakai berendem.” Seru ibu didapur membuat sarapan pagi.
            Cebas-cebus suara air di kamar mandi.
            “Eeeh,… dingin” Gumamnya menggigil setelah keluar, sambil lari menuju kamar untuk secepat mungkin memakai pakai seragam sekolah karena Ayah telah menunggu di meja makan.
            “Rani cepat udah siang entar telat.” Suara itu keluar dari mulut Ayahnya, seperti tidak sabar untuk menikmati nasi goreng buatan Ibu dengan telur menghiasi seperti bunga-bunga ditaman. Tak lama Rani keluar dengan menggendong tas. Ibu berjalan disamping sambil memegang pundaknya.
            “Selamat pagi Sayang..!” Sapa Ayah disertai senyum.
            “Pagi Yah…!” Sahutnya dengan menarik kursi untuk diduduki.
            “Ayah, nanti pulang jam berapa ? Jemput Rani kan.?” Ucap Rani manja, memang Rani adalah anak satu-satunya. Sebenarnya Rani sering kali mengutarakan keinginannya untuk pingin punya adik seperti teman-temannya di sekolah. Mereka sering menceritakan keasikan bermain dan liburan dengan adik-adiknya. Namun kedua orangtuanya mempunyai fikiran lain sebab mereka berdua tergolong orang-orang yang sibuk dengan urusan pekerjaan. Mereka takut kalau tidak bisa mengasuh dengan baik karena anak adalah sebuah titipan dari Allah jika anak berbuat atau tingkahnya buruk maka orangtualah yang menjadi Background. Artinya Orangtua akan selalu terbawa-bawa sebagai pendidik dan yang memberi pengarahan, meski sekolah telah memberikan itu, namun baik buruknya selalu merembet ke Orangtua.
            “Yuk kita berangkat sekarang.” Dengan mobil TAFF 4x4 mereka langsung meluncur menuju sekolah yang lumayan jauh dari tempat tinggal mereka. Maklum Ibu dan Ayahnya sangat tahu sekali dimana sekolahan yang baik dan sekolah yang benar-benar bisa memberi bekal dihidup anaknya nanti.
****

Fatamorgana

Oleh: Mulyadi Saputra dan Richa Febrina


Aku benar-benar terkejut, tidak pernah menyangka akan bertemu kembali dengan sosok yang sempat membuat hati ini bergetar beberapa waktu lalu, dan sekarang dia berada dihadapanku, ada perasaan bahagia namun entah mengapa aku tak berani mengangkat wajahku, pertama kali melihatnya tekadku yang sebesar batu karang tiba-tiba saja hancur, kebencian yang menjalari tubuhku sedikit demi sedikit mulai terlepas, perasaan yang telah tersayat seolah telah terobati, padahal aku tidak mengenal siapa sosok yang sedang berada dihadapanku, tapi dia seolah angin yang didatangkan Tuhan untuk meneyejukkan jiwa yang kering kerontang ini.
“Sekarang kumpul di tempat biasa,” ucapnya tersenyum lembut pada Dinda sahabatku,
“Iya kak,” sahut Dinda membalas senyumannya.
Aku masih sibuk melempar pandanganku kearah lain sambil sesekali mencoba untuk meliriknya, akhirnya dia pun pergi dan aku hanya bisa menatapnya dari belakang.
“Arini, kamu mau ikut?” tanya Dinda.
“Kemana?”
“Biasa lah, ke sanggar,”
Dinda memang senang melukis.
Aku menyunggingkan kedua ujung bibirku sambil menggeleng.
“Oh, ya udah nggak apa- apa, kalau begitu aku pergi dulu,”
Aku mengangguk.
Dia pun pergi.
Sosok itu kembali menghampiri pikiranku, munafik kalau aku bilang tidak ingin mengetahui siapa dia, tapi jujur selama ini aku memang tidak pernah mencoba untuk mencari tahu tentangnya, meski demikian bukan berarti aku tidak pernah mengingatnya, dia selalu berada dalam benakku dan setiap kali aku mengingatnya, aku hanya bisa mengingat, tak ada yang bisa kulakukan selain itu.
Sepulang dari kampus tidak sengaja aku bertemu dengannya, pandangan kami sempat bertemu, tapi aku segera berpaling, bergegas aku pergi, aku pernah merasakan perasaan seperti ini dulu, perasaan ini aku rasakan saat aku bertemu dengan Raka, sosok yang berhasil meluluhkan hatiku, memberikan kebahagiaan, membuat seolah aku adalah orang yang paling beruntung di dunia karena telah mendapat kasih sayangnya, tapi rupanya kebahagiaan itu semu, semuanya palsu, dalam sekejap dia telah menghancurkan hati yang selama ini menjadi tempat aku memupuk dan memelihara kasih sayang untuknya, sejak saat itu aku bertekad untuk menutup pintu hati ini meski sebenarnya hati ini haus akan kasih sayang. namun, aku tetap berusaha menutupnya serapat mungkin, aku tidak ingin merasakan kesakitan lagi, sudah cukup sekali saja perasaan ini tergores dan menyisakan luka yang teramat dalam.
Ternyata aku tidak sekuat dan setegar keinginanku, kali ini aku harus menerima kenyataan kalau dia telah berhasil membuatku menyukainya, padahal selama ini aku terus berusaha untuk tidak menyukai siapapun, ya Tuhan….seandainya aku bisa memilih, lebih baik tidak pernah merasakan jatuh cinta daripada aku merasakan perasaan itu tapi harus tersimpan dalam hati saja, itu teramat menyakitkan, aku benar-benar lelah dengan kesedihan yang menimpaku selama ini, cinta itu indah tapi kenapa cinta yang menghampiriku tidak seindah cinta yang menghampiri orang-orang, justru cinta yang datang padaku seolah menjadi sumber kesedihan dalam hidupku.
Saat aku sedang duduk di kantin tiba-tiba seseorang datang menghampiriku
“Kamu temannya Dinda kan?” tanyanya berdiri tegak dihadapanku.
“Ehm…..iya” jawabku singkat, entahlah perasaan ini terasa tak menentu.
“Dindanya mana ya?”
“Oh….hari ini dia nggak masuk, sakit”
“Begitu ya?”
Aku mengangguk
“Oh iya, nama saya Adit” dia mengulurkan tangannya.
Aku tertegun menatap uluran tangannya.
“Arini” setelah beberapa saat aku pun menyambut uluran tangan itu.
“Kamu nggak ikutan di sanggar?”
“Aku nggak bisa melukis”
Obrolan pun mengalir, sejak saat itu kedekatan pun mulai terjalin diantara kami, ada perasaan bahagia karena sekarang aku bisa dekat dengan orang yang kusukai, setidaknya aku bisa selalu melihat senyumannya, mendengar cerita-cerita tentangnya, candaannya, kini aku bisa mengenalnya.
Kebaikan yang selama ini Adit berikan selain membuatku bahagia tapi juga membuat hati ini sakit, dia baik pada semua orang tapi ketika kebaikannya tertuju padaku kadang aku mengartikannya lain, sehingga secara tidak langsung aku menyakiti perasaanku sendiri, banyak sekali pertanyaan dan harapan dalam benakku, entah sampai kapan aku akan begini, aku merasa nyaman berada disampingnya namun, itu sangat menyakitkan, dia seperti fatamorgana, hal terindah yang berada di depan mata tapi tak bisa kugapai, aku sudah cukup merasa lelah dengan keadaan ini dan sepertinya aku harus mengakhiri harapan-harapan yang selama ini bertumpuk dalam otakku, sakit memang tapi mungkin kesakitanku tak seberapa dibanding kesakitan yang dirasakan Zulaikha pada Yusuf, entahlah apa perasaan yang kurasakan pada Adit pun sebesar perasaan Juliet pada Romeo.
“Arini! tunggu!” teriak Adit sambil berlari menghampiriku, saat itu aku baru keluar kelas.
Aku pun menghentikan langkahku,
“Kamu ada waktu? ada yang ingin kubicarakan,”
Aku menatap mata elangnya “Maaf, aku nggak bisa, lain kali saja,” kataku sambil berlalu.
Akhir-akhir ini aku memang sengaja menghindari Adit, sebenarnya aku tidak mau melakukan hal ini, tapi mungkin inilah satu-satunya cara supaya aku bisa menghilangkan perasaanku terhadapnya, mungkin saja karena Adit tidak memiliki perasaan yang sama sepertiku.
“Arini…”
“Maaf Dit, aku harus pergi,” kataku saat kami bertemu di perpustakaan, tapi dia menghalangi jalanku.
“Kamu kenapa Arini? kayaknya kamu nggak mau ketemu sama aku”
Aku hanya bisa diam sambil tertunduk “Bukan begitu Dit,”
“Aku bikin salah ya sama kamu?”
Mulutku masih terbungkam, lalu aku mengarahkan pandanganku ke tempat lain.
“Oke, kalau aku punya salah aku minta maaf, tapi kamu jangan bersikap seperti ini Arini!”
Aku mengalihkan pandanganku ke wajahnya tapi aku masih tetap terdiam, lidah ini terasa kelu.
“Ada apa sebenarnya Arini?”
Itulah pertanyaan yang selama ini kutakutkan keluar dari mulutnya, karena pertanyaan itu tak mungkin bisa kujawab, aku nggak mungkin berkata bohong tapi jujur pun aku tak mampu
“Apa yang menjadi penyebab kamu menghindar dariku?”
“Aku tidak mampu berada didekat kamu Adit, karena setiap aku berada disampingmu perasaan ini semakin mendalam saja dan itu sangat membuatku tersiksa, tapi dengan menjauh pun itu malah tambah menyakitkan” kata-kata itu tak terkeluar dari mulutku. Berat rasanya.
“Arini…..”
“Aku cuma pengen sendiri,” ucapku.
“Kamu lagi ada masalah?” tanyanya terlihat khawatir.
“Jangan seperti itu terhadapku Adit,” sahutku.
“Maksud kamu?” dia mengerutkan dahinya.
“Aku…aku akan berusaha jadi seorang teman yang baik buat kamu,” kataku sambil mangalihkan pandanganku kearah lain karena rupanya mataku mulai berkaca-kaca, begitu berat rasanya aku mengucapkan kalimat itu, sakit rasanya.
Dia hanya menatapku heran.
“Permisi” aku pun pergi meninggalkannya, aku melangkah secepat mungkin karena air mataku sudah tak bisa terbandung lagi, ternyata seperti ini rasanya patah hati, aku tidak pernah membayangkan sebelumnya tapi sekarang aku merasakan bagaimana rasanya.
Selama ini aku terlalu berharap banyak dari Adit, aku menyangka kalau selama ini dia memiliki perasaan yang sama seperti yang aku rasakan padahal itu belum tentu, mungkin dia hanya menginginkan teman dekat, hanya sebatas teman dekat, tidak lebih, sedangkan aku dari awal berjumpa sudah menyukainya, harusnya aku bersyukur bisa menjadi temannya, aku tidak mungkin menghilangkan perasaan ini, aku tidak mampu untuk menjauh darinya, mungkin aku harus merasa cukup walau hanya sebagai temannya, kalau dengan berteman saja aku bisa dekat kenapa tidak? toh yang kuinginkan adalah selalu bisa dekat dengannya dan selalu berada disampingnya.
Berulang kali aku pikir. Otakku sampai kejang-kejang dibuatnya. Tak mungkin aku akan terus di sampingnya tanpa aku mendapatkannya. Itu hal mustahil. Aku benar-benar mencintainya. Kuulang sekali lagi kalau perlu. Namun, sebenarnya perasaan ini yang akan membunuhku pelan-pelan saat semua terbuyar.
Beberapa hari ini aku tak melihat Adit di kampus. Maklum saja dia memang sedikit sibuk dibanding mahasiswa lain. Selain urusan sanggar lukis, urusan pekerjaan, sampai tugas kuliah. Ia juga sedang ada masalah besar dengan rektorat kampus. Masalah lukisan tentunya. Ada salah seorang temannya di sanggar membuat  karikatur Rektor, dan masalah itu pula yang memboyongnya mendapat surat teguran. Hanya itu yang pernah ia ceritakan padaku. Aku ingin sekali melihat senyumnya yang lebar dan mata elangnya menyipit. Kalau aku bilang rindu, mungkin saja iya. Tapi aku yakin ia tak pedulikan itu. Yakin benar.
“Arini… mau kemana? Ih...aku dari tadi nyari kamu.” Dinda terengah-engah mengejarku saat aku melintas di depan sanggar. Rupanya dia ada disana.
“Ada apa Din?”
“Kamu ada lihat Kak Adit nggak minggu-minggu ini?” tak juga aku mengerti. Namun hatiku telah merasakan hawa tak nyaman. Aku menggelengkan kepala.
“Dia, berhenti kuliah…di DO” mataku membulat seperti mau lepas. Seluruh darah dan urat nadiku serasa putus. Persendian tulangku nyilu tak karuan. Hatiku telah remuk.
***

Friday, November 23, 2012

Biarkan Aku Bermimpi

         Dua malam ini aku selalu saja mimpi bertemu dengan gadis itu. Sungguh aku tak percaya kalau gadis itu benar-benar ada dan bisa bertemu denganku. Yang lebih heran lagi sebelumnya aku tak pernah memikirkannya, apalagi berjumpa dengannya. Tapi dalam mimpi itu aku seperti sangat dekat dan akrab dengannya. Aku bukan nabi yang mendapat pentunjuk dari tuhan lewat mimpi. Atau kisah orang dahulu yang harus percaya pada mimpi. Aku sedikit percaya kalau gadis itu memang benar-benar cantik dan matanya yang selalu saja terbayang-bayang di ingatanku dan seperti telah menempel di mataku. Apa memang dia seorang yang akan menyelamatkanku atau ia seorang malaikat yang akan membawaku ke alam yang lebih menyenangkan dari sekarang ini. Mata gadis itu sangat tajam sekali. Tatapannya seperti mengetahui semua yang sedang kupiikirkan dan yang kuinginkan darinya. ”Dik, kamu percaya nggak pada mimpi yang berulang-ulang?” tanyaku pada Dika, teman satu kampus, saat ingin pergi ke kuliah. ”Zep...Zep...kalau kamu masih percaya sama hal-hal yang gituan mendingan kamu berhenti aja kuliah, toh nggak ada gunanya. Percaya sama mimpi itu sama halnya dengan percaya sama dukun peramal alias syirik.” Dika menasehatiku sambil meledek dan menepuk-nepuk pundakku, sepertinya ia sedang menyadarkanku dari lamunan yang panjang.  
Aku masih tak puas. ”Tapi Dik, mimpi itu tak hanya sekali. Dua malam berturut-turut sampai aku hafal sekali bentuk mukanya, suaranya, matanya, dan seluruh kepribadiannya.” tegasku. Ia menganggapku mahasiswa yang masih menganut ilmu perdukunan, yang masih percaya dengan mistik dan lainnya. ”Itu bukan mimpi tapi itu kenyataan Zep. Kamu tau semua kan tentang gadis itu ? gadis itu ibumu kali !” tawanya meledek sambil lari-lari kecil menghindari hantamanku. Kumaki-maki dia. Kesal sekali aku dibuatnya. Yang lebih kesal lagi Dika terus mengejekku dengan panggilan paranormal. Aku mengancamnya dengan kepalan. Kalau saja sampai anak-anak dikelas mengetahui semuanya tentang gadis dalam mimpiku itu, semua bisa amburadul. Berabe. Dika seringkali mengejekku kalau gadis dalam mimpiku itu Wati, seorang mahasiswa satu jurusan denganku yang mempunyai tubuh gendut dan sedikit pendek. Pernah ia kujahili dengan menulis puisi di dalam buku catatannya waktu ia pergi ke toilet. Kutulis sebait puisi yang menyatakan kalau aku seorang lelaki yang menyukainya, namun selalu menyembunyikan identitas. Berkali-kali ia menanyakan pada teman-teman. Tapi semuanya hanya tertawa dan senyum-senyum tak enak. Sebenarnya banyak yang melihat saat aku menulis di bukunya itu. Tapi semuanya bisa tutup mulut. *** Sepulang kuliah aku mampir ke rumah orang tua angkatku yang tak jauh dari kampus. Disana aku kembali menceritakan semuanya tentang mimpiku. Namun, apa yang kuhasilkan dari curhatku itu? Hanya ledekan dan tertawaan. Dalam perjalanan pulang aku senyum-senyum sendiri dalam bis kota. Mungkin orang yang sedang duduk disampingku mengira aku ini orang tak waras. ”Kok, aku bisa sih sebegitu penasaran dengan gadis mata elang dalam mimpi itu ?” aku menggosok-nggosokkan tanganku di lengan sambil bersedakap. Dingin. Malam. Aku sengaja tidur cepat untuk menghilangkan kepenatanku setelah ujian tengah semester tadi siang. Kubuka-buka kembali catatan harianku yang penuh dengan coretan-coretan tak jelas. Gadis Mata Elang!!!!!!!”..............”GADIS MATA ELANG ! Seperti itulah yang tertulis disana. Dengan tinta warna merah dan hitam. Hurufnya kutebali semua dan pinggir-pinggirnya kukasih bingkai dengan tinta warna biru. Aku langsung terlelap. Buku-buku yang masih terserak menina bobokanku bersama komputer yang seakan-akan mengelus-ngelus punggungku. Aku jadi ingat nenekku di kampung yang selalu menidurkanku dengan dongeng Kumbang madu dan seekor kupu-kupu putih yang selalu berebut bunga untuk mereka hisap madunya. Terkadang aku kecewa karena hampir setiap malam cerita itu selalu di ulang-ulang terus. Pagi menjelang. Sorot matahari mulai memanas dari ufuk timur. Kupu-kupu dan kumbang telah berebut mencari dan menghisap madu para bunga. Benar juga kata Nenek. *** Mungkin saja apa yang dikatakan oleh teman-temanku itu benar. ”Mimpi itu hanya bunganya tidur,” Karena sampai saat ini aku belum pernah melihat langsung Gadis Mata Elang itu. Tapi jika kupikir ulang tak mungkin dia bisa masuk dalam tidurku kalau itu tak ada dalam kenyataan. Ah, kuralat, gadis itu sebenarnya ada, hanya saja aku belum bertemu dengannya. Gila ! Kuseduh sebungkus kopi. Kunikmati setiap air warna hitam itu melewati kerongkonganku, sambil berpikir bahwa hari ini aku akan demontrasi bersama teman-teman aktivis dari berbagai kampus. Otakku penuh unek-unek yang akan kulontarkan saat aku orasi nanti. Setelah mandi aku memakai kaos dan jaket andalan berwarna hitam kumal. Kusisir rambut yang terurai seleher. Sepatu dan kaos kaki telah terpasang. Hanya tinggal melangkahkan kaki meninggalkan kamar. Di depan kampus telah berkumpul beberapa mahasiswa yang sedang mencoret-coret kertas karton warna putih. Berbagai karikatur dan tulisan telah tercurah disana. Makian dan tuduhan terumbar semua. Microphone sudah mulai berpeluit-peluit untuk mengumpulkan massa sebanyak mungkin. ”Udah siap semua...?” ”Udah dong...!” Semua mulai berbaris. Yel-yel menggaung dari pelataran kantor Rektorat. Mobil yang akan mengangkut para demonstran pun telah siap berangkat. Kantor Gubenur yang akan menjadi tujuan utama demonstran. Mobil melaju sampai tiba di tujuan. Dan ternyata di lapangan depan kantor Gubenur telah ramai pendemonstran dari berbagai kampus sedang berorasi, ada yang menyanyikan lagu-lagu penyemangat. Ada yang sibuk mengkoordinir massa dari belakang. Rombonganku langsung berbaur. Tak lagi bisa dibedakan. Semuanya satu suara yaitu mempertanyakan, ”Dana subsidi BBM yang akan dikonpensasikan untuk pendidikan dilarikan kemana ? karena sampai sekarang semua itu belum terwujud.” Itulah yang sering diteriak-teriakkan saat orasi. Tak hanya itu, mereka juga mungungkit dua puluh persen dari dana APBN untuk konpensasi pendidikan belum semua terpenuhi. Dan suara yang lainnya membawa sebuah foto salah satu sekolah dasar yang bangunannya ambruk dan siswanya belajar di lapangan bola. ”Entah pemerintah atau ada oknum yang menggelapkan dana itu, Hhh...” ujarku menggumam. Suasana semakin panas namun tak ditanggapi juga dari pihak kantor Gubenur. Aku kini angkat bicara. Kupegang microphone. Aku mulai mengeluarkan unek-unekku yang telah tersusun sejak tadi pagi. Aku memang terkenal vokal dalam setiap demontrasi di kampus. Sorak soray mengiringi setiap ucapan yang kuhujamkan. ”Ya, betuuull !!” ”Lawan ketidakadilaannn...!!” ”Hancurkan kesewenang-wenangan...!! ”Hidup rakyat !!” Tepuk tangan dan yel-yel terus mengiringi. Silih berganti orator dari berbagai kampus maju ke hadapan massa. Berorasi. Aku termenung di belakang teman-temanku sambil memegang air mineral. Lelah. Aku mulai berpikir kalau perubahan ini takkan terjadi secara cepat, ingat saja kisah dalam film Veronica G atau tokoh Che Guevara atau penyair Chairil Anwar atau Pramoedya Ananta Toer. Setelah meninggal, baru mereka dikenang dan terjadi perubahan. Atau kisahku ini juga mungkin begitu. Aku mengusap mukaku dengan air mineral. Para demonstran berduyun-duyun menuju kantor DPRD untuk menyampaikan aspirasi. Disana kembali aku berorasi dan menghujat wakil rakyat dengan sebutan tikus got. Aku percaya sekali kalau dana pendidikan telah dimakan tikus-tikus got itu. Disana kami ditanggapi tak nyaman oleh pihak DPRD. Kami merasa tak puas dengan apa yang disampaikan oleh wakil rakyat yang sok tahu dan terus membohongi rakyat kecil. Cemoohan dan hinaan sepertinya sudah tak mempan bagi mereka. Para demonstran yang lain seperti tidak puas. Mereka melanjutkan demonstrasinya ke Diknas. Disana terjadi sesuatu hal yang tak pernah kupikirkan. Para demonstran merasa kecewa atas sikap dan keterangan yang diberikan. Mereka melakukan anarkis. Batu-batu kecil mereka lemparkan kearah kaca-kaca kantor. Akhirnya para petugas kepolisian dan pamong praja turun untuk menertibkan. Tetapi malah terjadi perlawanan. Sempat terjadi adu lempar antara pendemonstran dan aparat. Dan akhirnya semua bubar, hancur, kacau. Aku lari terbirit-birit dikejar aparat. Terkepung. Aku teriak minta ampun, ”Ampun....Ampun.....!” seruku saat pemukul dari kayu itu berkali-kali numpang di punggungku. Borgol mengikat kedua lenganku. Aku diseret-seret seperti kambing yang akan disembelih. Aku mengumpat tak karuan. Beberapa temanku juga diangkut ke kapolres setempat. Dan juga puluhan mahasiswa lainnya dari berbagai kampus. Kembali aku ingat seorang tokoh pembela yang di sekap pada rezim orde baru dulu. ”Mungkin dia lebih parah dari aku sekarang ini,” gumamku dalam hati. Tapi, aku kembali berfikir, andai saja orangtuaku di kampung tahu kejadian ini. Aku malu sekali. Kesedihan datang seketika. *** Seperti Domba yang digiring untuk masuk kandang, kalau hari menjelang malam. Begitu pula aku saat digiring masuk ke sarang singa itu. Langsung satu persatu kami dipanggil untuk di interogasi. Dan aku yang menunggu giliran masih tetap berdiri. Sedikit teringat sewaktu SD dulu, kalau yang tak mengerjakan PR di hukum berdiri di depan kelas dan menjadi tontonan siswa lainnya. Sekitar jam sepuluh malam, ”Zeptian Tauzik..!” panggil salah seorang anggota dari ruangan interogasi. Aku langsung berjalan malas menuju ruangan itu dengan menundukkan muka. Beribu pertanyaan terlontar dari mulai motif aksi, minat dan aktivitasku semuanya di catat. Seakan-akan aku sedang berada di depan kanibal yang siap melahapku. Aku dibentak-bentak tak karuan. Yang lebih tak masuk akal lagi ia sesering mungkin membawa-bawa nama Ayahku yang tak bersalah. Aku naik darah. Tapi aku ingat kalau ini kandang singa, bila aku bergerak maka aku diterkamnya hidup-hidup. Setelah selesai interogasi aku di masukkan dalam ruang tahanan sementara bersama sepuluh temanku yang tak kukenal. Aku tergolek merapat ke tembok penjara. Aku jeda sejenak. Saat aku menegakkan badan, tiba-tiba refleks aku langsung loncat mendekati teralis besi dan memanggil-mangil seorang perempuan yang lewat ketika itu. ”Bu....Ibu...!!” Ia hanya menolehkan mukanya. Dan saat kulihat. Ya Tuhan, persis sekali dalam mimpiku itu. Gadis Mata Elang. Tak ada perbedaan sedikitpun. Rambutnya sebahu dan matanya tajam, hanya saja mungkin ia sama sekali tak mengenalku. Aku yakin sekali kalau itulah gadis yang menghantuiku selama ini. Paling karena balutan seragamnya saja yang membedakan wanita itu dengan wanita yang ada dalam mimpiku. Keadaan samar. Aku seperti masuk ke dalam mimpiku lagi. Tapi kucubit kulit tanganku. Sakit. Kugoyang-goyang pintu besi. Ia tak memalingkan muka lagi. Aku terduduk lesu. ”Mengapa dia tidak seperti dalam mimpiku itu. Oh....rupanya ia seorang Polwan yang tegap. Tapi, aku yakin kalau dia adalah seorang yang lembut.” tadi aku sempat berusaha membaca nama yang terlekat di dadanya. Marisa Soebroto. ”Itu pasti nama aslinya dan nama belakangnya itu adalah nama Ayahnya.” gumamku tak karuan. Seseorang memukul-mukul pundakku, ”Meskipun ia kenal kita di luar sana, tidak untuk di dalam sini. Apalagi mau membantu kita melepaskan diri dari neraka ini.” ucapnya lirih. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Sekitar jam satu malam kami dibubarkan dari polres itu. Tapi aku malah duduk di teras, aku ingin sekali lagi melihat gadis yang selalu kupikirkan akhir-akhir ini. Aku masih tak percaya kalau dia seorang Polwan. Namun, Fariz menarik lenganku mengajak pulang, aku langsung menuruti saja. Capek. Sesampainya di kosan aku terbaring marasakan badanku yang remuk. Sambil terlintas-lintas bayangan Marisa si Polwan dan si Gadis Mata Elang yang tak mungkin bisa kudapatkan. Tertidur pulas. Mimpi. *** Dua hari ini aku tak masuk kuliah. Badanku serasa remuk dan pikiranku yang tak karuan memikirkan Polwan yang tak sesuai dengan mimpiku. Aku mencoba meramal-ramal mimpiku, mungkin saja kami memang takkan sejalan. Kata temanku ”Mimpi biasanya sering berlawanan dengan kenyataan.” aku menjadi sedikit percaya dengan perkataan itu. Setelah beberapa hari, kemudian aku mencoba memberanikan diri untuk menemui Polwan itu meski harus datang ke sarang Singa. Sekitar jam delapan pagi aku telah melangkahkan kaki menuju kesana. Sesampainya di depan kantor aku membaca sebuah plang ”Tamu Wajib Lapor”. Disana terlihat beberapa orang polisi berseragam. ”Permisi Pak !” ucapku sopan. ”Silahkan masuk, ada yang bisa saya bantu ?” ”Saya mau bertemu dengan Ibu Marisa Soebroto,” aku menatap petugas itu yang tempo hari membentakku habis-habisan. ”Sebentar saya hubungi dulu Ibu Marisa-nya, oya bukannya kamu yang tempo hari kesini karena aksi demo ?” aku gugup menjawabnya. Pikiranku tak karuan. ”Rupanya polisi ini kuat juga ingatannya.” aku hanya mengangguk-anggukkan kepala. Tanganku bergetar. Kudengarkan perbincangan melalui telepon. Ia menyebutkan kalau aku seorang mahasiswa demonstran waktu itu. ”Ada apa Mahasiswa yang sok membela keadilan itu !!??” tegas Polwan itu. Sepertinya geram dan enggan bertemu. Ah entah kenapa. Karena perbuatanku kah tempo hari. ”Saya sedang sibuk, sampaikan padanya !!!” gagang telepon itu terbanting. Lalu petugas piket menyampaikan apa yang dipesankan oleh atasannya. Aku pulang membopong sejuta kekecewaan. Otakku runyam. Dengan lesu aku menaiki kendaraan umum yang seketika melintas di depanku. Mengapa mahasiswa selalu dipandang sebelah mata ? Mengapa aparatur negara begitu benci dengan mahasiswa ? Bukankah dia dulu juga mahasiswa ? Mengapa kita harus ada perbedaan ? Apakah kesenjangan sosial itu akan terus ada ? Mengapa kebenaran sangat susah ditegakkan ? Mengapa aku bisa terpesona dengan perempuan dalam mimpi itu ? Atau dunia ini memang sudah tak butuh lagi ? tak kulihat jawaban di langit biru. Aku tak putus asa, kucari data dari warnet depan kosku. Kubuka website tentang kapolres yang kutuju dengan bantuan Google. Akhirnya kudapatkan juga alamat Polwan itu. Mungkin dengan cara ini aku bisa ngobrol sebentar untuk mengungkapkan semuanya tentang mimpi dan perasaanku. Ia masih gadis. Aku cengengesan sendiri di depan layar monitor. Aku ulur beberapa hari untuk mendatangi rumahnya. Mencari waktu yang tepat. Meski harus bertempur dengan hatiku. Ketika aku datang ke rumahnya aku melihat Polwan itu sedang duduk sendiri di ruang tamu sambil memegang majalah remaja. ”Permisi...” pintunya terbuka sedikit. ”Mau cari siapa ?” tanyanya. Aku begitu gembira mendengar suara merdu itu yang sama persis saat ia dalam mimpi. ”Saya mau bertemu Mbak.” ”Anda siapa ya ? Saya tidak mengenal anda.” seraya menutup pintunya. Aku kembali hancur. ”Mau apa sih orang bodoh itu ? Seharusnya dia sadar diri dong ? Apa yang dia andalkan dari pangkatnya seorang mahasiswa tukang demo nggak jelas itu,” gerutu Marisa. Kini statusku sudah tak jelas. Seakan-akan kami berdua seperti Anjing dan Kucing yang takkan bisa bersatu. Jika aku mengusiknya maka ia siap untuk menerkamku dengan sadis. Aku takkan putus asa. Kuketik rapi di komputer, sebuah surat untuknya. Aku katakan semuanya, ”Aku tak bermaksud mengusik hidupnya. Aku hanya tertarik dengan ucapanmu saat dalam mimpi. Aku yang kehilangan tempuan hidup ini. Aku ingin dia meluruskan semua kegelisahan otakku. Surat kukirim. Surat sampai. ”Dasar orang gila! Memangnya aku ini siapa? Yang harus membelas kasihani seorang pemberontak sepertinya, aku juga tak kan percaya!” Polwan itu tersenyum sinis saat membaca surat dariku. Yang jelas unek-unekku telah tersampaikan. Hatiku tak puas. *** Suatu waktu, akhirnya..... ”Zep, seharusnya kamu harus lebih bisa menegakkan kebenaran. Aku sangat bangga, kamu adalah seorang pahlawan,” hatiku senangnya minta ampun saat Gadis Mata Elang itu menatap mataku. Aku seperti melayang di atas ombak besar samudra Hindia. Di temani segelas es jeruk dan es melon segar kami duduk di warung pinggir jalan. Aku bangga sekali di lihat oleh para pengendara motor, mobil dan sepeda yang melintas. Seorang gadis cantik duduk di depanku. Mungkin saja jika teman-temanku lewat maka mereka akan menggeleng-gelengkan kepala sampai menabrak pagar atau tak sadar kalau lampu merah menyala. Hanya karena aneh, tak percaya dan mungkin takjub. Obrolan kami panjang. Ia begitu mendukung semua pendapat dan niatku. Aku jadi begitu semangat untuk hidup dan mewujudkan impianku. Aku ingin merubah negaraku tercinta ini hingga bebas dari kemunafikan. ”Tok...Tok...Tok...” ”Zep..! Zeptian.... Bangun...” Neli, tetangga kamarku, mengetuk pintu kamar. Aku terkejut, mataku terbelalak lebar. Kekesalanku tumbuh kembali. “Hah, cuma mimpi aja nggak dizinin !” *** Bandung, 2007 Oleh: Mulyadi Saputra (Moel)

Saturday, June 19, 2010

Buku Seharusnya Tidak Jadi Barang Mahal

Oleh: Mulyadi Saputra (Moel)
-Dimuat di Media Indonesia-


Hal yang sangat sulit tentunya untuk meraih posisi di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional (depdiknas), namun tidak pula salah bila berkeinginan untuk duduk di posisi tersebut. Bila benar posisi itu terduduki, ada langkah-langkah konkrit yang akan saya buat untuk menanamkan budaya literasi pada masyarakat Indonesia. Karena budaya baca dan menulis kita rendah berefek kepada lambanya kemajuan bangsa.
Langkah konkrit pertama yaitu merombak habis institusi saya dengan mengganti orang yang berfikir tidak jadul, diganti dengan yang fikir maju, kritis, dan peka. Sehingga program saya dapat dicerna dan ia juga mempunyai ide-ide baru yang jitu.
Yang kedua, membuat perpustakaan/taman baca yang indah, nyaman dan memiliki koleksi buku terup-date. Perpustakaan yang indah itu bila seorang pembaca masuk dan mencari buku untuk dibaca, akan mudah. Selama ini perpustakaan umum daerah berdesain formal, kaku dan seringkali jauh dari sekolahan, universitas dan lainnya. Buat ruangan tersebut menjadi nyaman dengan taman, ruang baca di lingkungan terbuka sekitar lokasi taman perpustakaan.  Tidak terpaku dengan meja yang berderet diruangan dan dengan system administrasi tak berbelit, sehingga menjadi tidak menjenuhkan.
Sedangkan untuk buku yang lengkap dan terup-date mungkin mudah saja, namun kenyataannya ini tidak mudah. Buku di perpustakaan umum atau perpustakaan sekolah di ambah dengan rentang waktu, misalnya tahunan atau per semester. Padahal buku terus terbit bahkan per hari saja sudah tak terhitung dari penerbit seluruh dunia.
Ketiga, konon katanya subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dialihkan ke pendidikan menjadi dua puluh persen dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Dana subsidi sebesar itu akan saya sebagian gunakan untuk membentuk perpustakaan atau taman baca yang lebih meriah, nyaman dan di lokasi yang tepat pula. Karena dua puluh persen dari APBN bila di ambil dua setengah persen saja untuk pembuatan taman baca tentu tidak berefek besar. Disana pula para siswa, mahasiswa dan masyarakat dapat membaca dengan mudah.
Keempat, harga buku yang mahal tentunya juga menjadi kendala besar masyarakat untuk rajin baca. Dengan langkah ini tentu akan meringankan harga buku yang begitu menekan di kalangan menengah atau menengah kebawah. Langkahnya yaitu Depdiknas melobby Direktorat Jendral Pajak (Ditjen Pajak) untuk menghapus pajak PPn buku, diharapkan harga buku menjadi terjangkau oleh masyarakat kita.
Kelima, memberikan atau mengadakan acara-acara yang merangsang masyarakat untuk membaca. Selain itu saya akan mengerahkan orang-orang yang sanggup mengajak masyarakat rajin baca, semacam penyuluhan atau seminar gratis tentang manfaat baca buku. Setelah itu saya mengadakan sebuah acara besar tentang manfaat membaca. Misalnya kontes pengetahuan, lomba menulis dan lainnya yang diadakan per wilayah bahkan per RT, RW, Kecamatan dan di internasional.
Dengan langkah-langkah ini saya yakin masyarakat kita akan menjadi masyarakat yang mempunyai budaya literasi tinggi.  Berpengetahuan luas dan dapat menciptkan kemajuan bangsa yang sampai saat ini terus tertinggal oleh Negara-negara yang sebenarnya dahulu bersamaan merangkak.

Thursday, October 8, 2009

Akan Kulukis Semua Gelisah dalam Satu Malam

Mentari yang bersinar hangat menyuruhku untuk segra menyapa. Melambaikan tangan. Bahkan menatapnya dengan kesilauan. Bila kuinginkan itu maka aku yang akan kepanasan. bak caci9ng geleparan di tanah liat yang keras dan tandus. Teriak melolong. Berlari menjauh semua dari nasib kehidupan. Atau sanggupkah aku melukiskan semua gelisah dalam satu malam? Tak hanya itu yang kuharapkan. Yang hilang akan kembali. Yang pergi akan pulang dan yang mati akan hidup kembali. Ah tapi ini gila….
Anganku telah berlari jauh menuju kepesisir pantai. Menerjang ombak yang mengilap dan menggulung semua duka dermaga. Menatap jauh ketengah hamparan air yang meluas. Menantang badai. Setelah kutaklukan laut akan kutaklukan seluruh benda dilangit. Bulan, Matahari, Awan, Bintang dan Udara yang mengapung-apaung tak bertujuan maka akan kutaklukkan daratan, lengkaplah sudah. Ah, masa ia aku sekuat Arjuna? Atau aku seperti buraq yang mengantarkan Nabi kesurga? Terlalu jauh kini anganku membungkus semua kelu.

“Esok….” Aku hanya ingin bilang kalau esok Aku harus merayap untuk menguasai daratan. Janjiku hanya satu “Aku akan melukiskan semua gelisah dalam satu malam.” Akhir dari cerita yang setiap hari di utarakan setiap Ibu-Ibu rumah tangga. Bukan perselingkuhan suaminya. bukan pula bahan makanan dan minyak yang melonjak. Tapi Anaknya yang tak pulang malam tadi.

***

Mulai kutatar jari jemariku untuk menguaskan seluruh kehidupan. Memberi corak dalam setiap detik yang telah kulalui.

“Kakek, apa dulu Kakek yang mengajari Ayah menulis dan membaca?” ucapku seketika duduk didepan kulit keriputnya. Rupanya ia sama sekali tidak menjawab. Suaranya hanya sekedar dehem dan memberijawaban tak jelas. Kakek adalah pahlawan seribu abad yang lalu. Kakekku adalah alam. Ia sanggup menuntun kelelahan jiwa yang terhantam kerisauan. Benar-benar Abstrak dunia yang kulamunkan sekarang.

“Baren, kemana saja semalaman tadi?” Hatiku mengilu-ngilu tak sedap. Ingin kujawab dengan jujur pasti ini hanya ilusiku saja. Tapi ia telah benar menyebut namaku “Baren”. Nama itu yang pertama kulukis nanti. Nama pemberian Ayah, dan Ayah di ajari oleh Kakek.

“Semalam aku pergi bersama teman-temanku, melintasi Alam yang dingin. Alam yang akan mengajariku tentang kehidupan,” sejenak kuhela nafas, “Alam itu pula yang menjanjikan seluruh kedamaian,” seperti itu aku jawab dalam hatiku.
Mungkin kali ini benar memang Kakekku. Kulitnya kusut, keriput, tulang pipinya telah menonjol. Kelihatan tua sekali dia. Tangannya menepuk bahunku, meremas dan matanya menghilang dari jiwanya. Entah kemana. Hanya aku sanggup menempelkan secarik pikiran. “Ia mau menanyakan sesuatu tentang aku,”

“Kek, ada apa sebenarnya dengan saya?” kutatap dengan jeli setiap bola matanya mengintari alam sekitar. Sepertinya ia tak menghiraukan pertanyaanku. Suaraku tadi, telah hilang melambung terbawa oleh dinginnya angin.

“Apa yang telah kamu lukis selama kamu hidup di dunia ini?” aku begitu terkejut. Pertanyaan yang tak pernah kucari jawabannya kini telah menampar-namparku. Aku tak berkutik, muram, dan tak bergerak.

“Semalam suntuk aku telah mencoba mencari kuas, cat dan berbagai peralatan untuk melukis Kek. Di sana… di sebuah gunung yang tak jauh dari kota. Yang tak jauh dari jiwa yang telah gila,” sebentar-sebentar aku berhenti berkata, kususun rapi yang akan ku utarakan, sehingga yang terucap seperti puitis, “Disana pula telah kutoreh bersama teman-temanku. Sebuah lukisan kehidupan untuk peneruskan habitat kami, mereka orang yang beruntung Kek,”

“Berapa orang yang melukisnya?” Kakek itu menatapku seakan tak percaya dengan ucapan suci ini. ia tak menyangka cucunya yang amburadul telah sanggup melukis. Meski ia sebenarnya belum tau apa lukisan sebenarnya yang ku maksud.

“Kenapa Kakek tak menanyakan seperti apa lukisanku itu?” erat tangannya masih menjamah bahuku. “Apa sebenarnya Kakek tak percaya kalau aku sanggup mengerjakan hal itu?” kulit kusutnya mewakili semua jawaban yang tak terucap dari Kakek.

“Cucuku, dunia ini tak hanya sebuah goresan saja, bahkan warna dunia ini melebihi indah pelangi yang melengkung di timur sana, dan celah kehidupan tak serata kuas yang kau gunakan untuk melukis, dan dahsyatnya badai telah serta merta meluluhlantakkan semua cerita yang akan kau lukis,” tangan Kakek melemah, turun menyentuh krikil-krikil bulat seperti butirn-butiran yang menghiasi pantai.

***

“Apa…? disana kau dan teman-temanmu telah memikirkan, bagaimana kalau lukisan itu sebenarnya tak pernah diterima oleh para penikmat? Apakah kau dan teman-temanmu telah mempercayai kalau kertas yang kau lukis itu adalah kertas yang benar-benar kertas lukis? Ingat cucuku, jika itu tak cocok maka semua akan sia-sia,” Deg…. Jantungku seakan berhenti. Memikirkan bagaimana sebenarnya lukisan itu bila telah terpajang di dinding. Sedangkan yang kutahu lukisan-lukisan itu masih samar, mereka belum jelas semua. Apa mereka lukisan yang idealis atau lukisan abstrak atau yang lainnya. Aku dan teman-temanku bukan paranormal. Aku tak pernah tahu hati mereka. Mereka sebenarnya sama dengan kami. Mereka lukisan.
Dan jika penikmat tak pernah menerima lukisan itu, kami harus bagaimana? Sedangkan kami semua telah habis-habisan mengerahkan semua tenaga, pemikiran, dan hati. Jika tak lebih baik dari lukisan yang sering terpajang di luar sana, berarti kami telah gagal. Kuulangi sekali lagi “GAGAL”. Dua G, dua A dan satu L. lima huruf yang memalukan.

“Kek, kini telah terjadi semua, dengan waktu yang singkat, dengan rencana yang matang, dan dengan lukisan yang berbeda, lima buah lukisan Bunga yang berbeda-beda dan tiga lukisan yang menunjukkan pemangsa bunga,” begitulah aku mengurai satu demi satu lukisan.

“Lalu pelukisanya apakah menyukai bunga itu?” Kakek begitu semangat mengorek data dari setiap lekuk. Dia seakan membaca setiap lompatan mataku. Menatap lukisan bunga yang satu dan yang lain. Sebenarnya aku tak pernah memilah-milah, ia adalah lukisanku dan teman-temanku. Aku mencintai mereka melebihi dari cintaku dengan karya orang lain. Itu pasti!

“Kakek tau benar, pelukisnya semua adalah kaum Adam, mereka yang lembut dan penikmat dari segala karunia Ilahi Robbi. Mereka tak mau menyia-nyiakan suatu keindahan. Mereka semua pengagum dari segala seni,”

***

Malam yang larut kini telah menyusut menjadi butiran-butiran embun yang dingin. Menyerap semua hawa hangat ditubuh setiap manusia, pembakar tubuhpun menjadi kering kerontang seperti dalam masa yang gelap dengan pengetahuan, Yap…zaman dimana Nabi yang mencerahkan, zaman Jahilah tepatnya. Api… benar api yang sanggup menghilangkan semua dingin ditubuh ini. ia akan menghasut embun untuk segera pergi dari lingkungan ini. lalu menghilang dan datanglah kehangatan yang maha nyaman.
Kakek masih terus dihadapanku. Menuntun setiap kerongkonganku yang kering. Meluruskan semua garis yang akan kubuat dalam bingkai lukisan itu.

“Pilihlah cucuku satu lukisan yang benar-benar membuat hatimu sejuk. Dia telah kau lukis dan dia yang akan menghargai semua jerih payahmu, dan dia pula yang menjanjikan keindahan di hidupmu. Kau pajang di dinding yang termulia di sela-sela jiwamu.”

“Apa maksudnya Kek?” otakku kejang pura-pura tak mengerti. Semua yang Kakek utarakan padahal itu yang akan kutanyakan padanya. Namun hatiku terkadang enggan merangkai kata untuk sebait puisi, jika aku ingin mengutarakan padanya. Kutahu persis watakku sendiri. Aku malu bila mengatakan langsung. Kuingin metafora, hiperbola, ironi dan segala jenis majas, yang menyampaikan bait-bait hatiku itu.

***

“Kakek jangan terus menuntunku seperti ini,” kini hatiku mulai takut akan rahasia dibalik lukisan itu.

“Kau itu terlalu jauh meloncat kedasar lautan sana, kau itu terlalu menyembunyikan sesuatu yang jelas, tak usah kau katakan semua orang telah menafsirkan. Lukisanmu berbicara.”

“Tapi, Kakek telah memaksaku untuk mengutarakan semua tentang lukisan itu,” darahku meloncat-loncat tak karuan. Aku tak berdaya dibuatnya. Tapi aku yakin, aku takkan mengatakan semua tentang lukisan kami yang tergores semalam itu. Teman-temanku telah kukunci mulutnya untuk diam.tak mengatakan semuanya.

“Kakek, kami hanya main-main. Mengisi waktu luang dihari libur,” tegasku menutupi semua kejadian dibalik pelukisan itu.

“Kakek tak percaya dengan sumua itu. Dari percikan matamu saja telah terlihat jelas bahwa kau melukis dengan hati dan tercipta lukisan yang sejati.” Kini kedua kaki Kakek telah ditekuk sila menghadapku. Ia begitu serius. “Kakek hanya ingin menilai kerja keras kalian,” liurnya kini telah mongering, rongga-rongga tubuhnya mengeras seakan ia akan mengungkap semua kejadian semalam di hutan Cicalengka itu.
Api kini berkobar dengan dahsyat. Melahap seluruh kayu yang dimasukkan kedalamnya, rating yang dilemparkan kedalam, jangankan yang kering, basahpun nyala. Itulah api. Bila ia sudah menjadi dirinya, tak ada yang sanggup menahan kobarannya, namun sebelum ia benar-benar nyala maka tak ada yang dapat memprediksi, apa api itu akan nyala atau hanya asap yang akan melambung keudara kemudian hanyut bersama angin. Lenyap saja.

Kakek tua itu masih menghadap mataku. Ia menyimpan sejuata Tanya lagi.

“Cucuku, Kakek masih belum puas dengan ceritamu ini. Kakek ingin melihat lukisan-lukisan itu,” aku ingin sekali mencicit lari dari hadapannya. Aku merasa belum sanggup memperlihatkan lukisan itu, meski bukan aku sendiri yang melukisnya.

“Dimana kau menaruh lukisan-lukisan itu?” tangannya mencekam erat lenganku. Aku tak sanggup menghindar. Aku ingin berteriak kencang. Lepaskan!

“Disana Kek,” aku telah menunjukkan lukisan itu, berarti aku harus bertanggung jawab bila ada sesuatu terjadi dengan lukisan-lukisan itu. Kepada Hapid, Restu, Hadi, Ivan, Mul, Dani, Yoko, dan yang lainnya. Terlebih kepada Moses, Bob, Dany, Pian, dan petinggi lainnya. Aku takut.

Mata kakek telah menyerang keseluruh penjuru. Meneliti semua lukisan yang terpajang. Galerikah? Aku juga tak mengatakan itu. Langkahnya telah laju melebihi langkah para malaikat menerobos langit. Melebihi kuda gunung pasir dan lebih lincah dari ayam kampung yang dikejar mau di sembelih.

“Hah, ternyata ini lukisan-lukisan itu,” ia telah menemukan lukisan-lukisan itu. Ingin sekali aku menutup matanya agar tak melihat langsung apa yang telah tergantung di berbagai dinding.

“Inikah yang kau sebut lukisan itu?”

“Benar Kek, itu yang kami gores semalam di hutan belantara Cicalengka,” aku berusaha tegar.

“Karya yang sangat aneh,” matanya belum berkedip juga, “Lukisan ini berisi Idiologi, menggoreskan segala peran-peran dunia, kebersamaan, dan budaya. Lukisan ini belum bebegitu sempurna. Tapi ini adalah anak-anak yang luar biasa. Ia adalah karya Cucu Kakek,” Saat itu gembiran hatiku tak kira-kira. Aku meloncat seakan melewati mendung.

“Kakek hanya berpesan kepada semua teman-temanmu yang menggores lukisan-lukisan ini, jangan pernah bosan melukis. Karya kalian adalah karya yang belum tertandingi.” Kakek itu langsung melenyap. Hilang. Aku berlari menuju arah teman-temanku berada. Akan kukabarkan berita menggaduhkan dunia ini. berna rupanya, kami tak sia-sia melukiskan semua gelisah dalam satu malam kemarin.

***
Moel
02:42:07………….17 May 2008

Tuesday, June 16, 2009

club cerita lucu

Orang jecius

Oleh: Moel
Ardi adalah sosok orang yang terkenal jeniusnya. Suatu hari ia sakit parah dan dirawat di rumah sakit. Ia telah merasa kalau umurnya tidak lama lagi. Pada saat istri dan anaknya berkumpul ia berwasiat,
“Nanti kalau datang waktu Bapak di ambil oleh Allah, kuburkan Bapak dengan kain kafan yang sudah jelek saja.” Ucap Ardi tersengal-sengal… seluruh orang yang berada disitu terharu dan menangis….
Tibalah hari dimana Allah mencabut nyawa Ardi… seluruh keluarga menangis sejadinya. Ardi pun dikuburkan dengan kafan yang sudah lusuh alias jelek sebagaimana ia berwasiat.
Pada saat dalam kubur Malaikat datang untuk mengintrogasi Ardi…
Jreg..jreg..jreg… Malaikat datang… dengan gertakan ingin menanya…
“Siapa Tuhanmu?”
Dengan santai Ardi berkata,
“Malaikat… Apakah anda lupa? Saya sudah lama disini. Saya itu sudah meninggal beberapa minggu yang lalu. Lihat saya kain kafan saya saja sudah jelek seperti ini…” Malaikatpun menepuk keninggnya… “Oya..ya… saya lupa….”


Orang Pelit

Oleh: Moel
Pak Udin adalah seorang petani dari sumatera yang merantau ke daerah Bandung, ia bertani buah-buahan. Sore itu ia hendak pulang dari kebunnya menuju rumahnya yang tidak jauh dari situ. Sebelum pulang ia memetik mangga karena sedang musim mangga kali itu. Pada saat di jalan ia bertemu dengan penduduk peribumi sedang duduk-duduk ditepi jalan,
Pak Udin : “Permisi Pak…” ucapnya seraya membungkukkan badan.”
Warga : “Mangga...”
Pak Udin : “Wah… Bapak tahu aja kalau saya bawa mangga” lalu ia memberi beberapa biji kepada orang-orang tersebut… padahal Mangga dalam bahasa sunda artinya silahkan… tapi Pak Udin tak tahu artinya karena ia asal Sumatra.
Keesokan harinya ia masih memetik Mangga lagi karena memang musim mangga waktu itu. dan kejadian seperti kemarin terulang lagi. Ia harus bagi-bagi mangga meski tak ikhlas.
Dalam otak Pak Udin terus berfikir untuk memberi pelajaran pada warga yang setiap sore duduk-duduk di tempat itu.
Sore datang… ia memetik Rambutan yang masih muda karena memang belum musimnya matang… lalu ia pulang…
Pak Udin : “Permisi Pak…” ucap Pak Udin seraya membungkukkan badan.
Warga : “Mangga...”
Pak Udin : “Wah… salah… saya tidak bawa mangga hari ini… tapi… Rambutan Muda…”
Ha…ha….ha…


Pak Haji VS Pendeta

Oleh: Moel
Disuatu sore Pak Haji mau pulang dari pengajian. Ia mau naik kendaraan umum.
“Bismillahirrahhmanirrahim” kata Pak Haji sambil melangkahkan kaki naik keatas bis.
Didalam bis itu ada seorang pendeta yang baru pulang dari gereja pula… dan Pendeta itupun meralat
“Bis kota Pak…” Pak haji diam saja tanpa komentar…
Cuaca hari itu mendung mau hujan. Lalu terlihat kilat petir menyambar. Pendetapun terkejut dan reflek mengucap “Haleluya…” dengan sigap pula Pak Haji meralat… “Halilintar Pak…”
Ha…ha…ha…ha…


Si Centeng Kena Imbasnya…

Oleh: Moel
Disuatu kampung hidup seorang yang sangat disegani karena kehebatan ilmu kanuragannya dan ia juga kebal dari berbagai senjata. Seluruh penduduk takut dan segan padanya, sangking segannya suluruh penduduk setiap berjumpa si centeng itu menegur dengan nama panggilannya “Warok”. Sebab kalau tidak menegur takut bisa dicincang… oleh golok di pinggang si Warok.
Setiap ia mendengar panggilan “Warok”, dengan bangga ia berdehem sambil mengelus kumisnya yang panjang sampai jenggotnya dengan tangan kanan.
Dimanpun penduduk bertemu Warok, mereka harus menyapa dengan “Warok”. Si Warok pun lasung “Ehm…” tangannya mengelus kumis sampai jengkot. Begitulah seterusnya.
Sampai suatu ketika ada seorang remaja sedang berjalan sendiri lewat samping rumah si Warok tersebut. Ia melihat kepala dan setengah badan Warok sedang serius dengan kerjaannya. Si Warok sedang buang air besar rupanya…. WC si Warok memang tidak tertutup semua, dan itu sudah biasa di kampung itu, WC dengan dinding setengah badan. Pemuda itu terlihat bingung, ia mau menegur Warok tapi ia sedang buang air besar. Kalau tidak menegur ia takut pula di gorok dan dicincang. Akhirnya ia memutuskan untuk menegur, dari pada mati binasa….
“Warok” ujar si pemuda tersebut.
Tanpa ragu Warok pun tersenyum,
“Ehm…” dengan reflex pula tangannya mengusap kumis sampai dengan jenggotnya, padahal ia sedang cebok… bayangkan saja tangan dengan berlumur kotoran menghiasi kumis dan jenggotnya…. Ha…ha…

S i n o p s i s Novel: Mencari Aku Waktu Dan Rahasia Dunia

Mencari Aku, Waktu, dan Rahasia Dunia adalah judul dari novel ini. Novel ini menceritakan tentang seorang anak muda dalam proses pencarian. Tokoh utamanya adalah ‘Aku’ dengan nama Fajruddin Saleh bin Tjik Saleh dengan karakter pemuda yang idealis dan memiliki seorang kekasih yang berbeda kepercayaan (ia memanggil kekasihnya itu si Manis, nama aslinya Resita Maulia). Tokoh utama adalah seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi Jurnalistik di salah satu universitas di Bandung yang sedang bercerita tentang bagaimana jika ia telah memperoleh gelar sarjana nanti. Ia sedang menjawab sebuah pertanyaan dari temannya (Ivan), di sebuah Pantai Kuta Bali. Novel ini banyak menggunakan pengibaratan, ini kutipan paragraph di dalamnya: Sekarang siang sudah terbentang seperti bioskop yang baru selesai filmnya. Byar...! nyala lampunya. Terang jadinya. Sedangkan orang yang sedang bercumbu langsung berusaha bertingkah seperti orang baru pulang dari masjid, kaki-tangannya langsung kembali kehabitatnya dan buru-buru mengancing segala kancing, celana juga baju. Merapikan rambut yang sama-sama kusut, tak jelas penyebabnya. Mengelap seluruh bagian tubuh yang basah, tak tahulah kalau bagian lain yang basah, di elap atau dibiarkan. Hussss... adegan kegelapan sudah usai! Mirip sekali perbuatan itu dengan penumpang dalam bus ini, ada yang mengusap air liur yang meleleh dibibir, ada yang memoles-moles mata belekan, dan merapi-rapikan rambut yang kusut dan baju yang semerawut, dikancingnya kembali. Masa tidur telah usai. Mau tahu kenapa? Sebab banyak orang menggunakan kegelapan sebagai ajang aji mumpung! Mumpung orang tidak tahu. Mumpung orang tak ada yang lihat, saya boleh melakukan apa saja, dll, dan dll. Maka terjadilah....adegan setiap kegelapan datang. Tokoh utama akan pulang kampung bila telah selesai kuliah nanti karena tak mampu untuk terus menyandang status pengangguran. Nah, dalam perjalanan pulang itu ia memperoleh banyak pengalaman dari seorang fotografer, seorang wanita yang sudah berkeluarga, keluarga perantauan dan seorang petualang. Pada setiap pertemuan ia selalu ngobrol dan bercerita. Jadi novel ini mengisahkan bercerita lalu dalam cerita itu ada lagi cerita. Jidi, novel ini sengaja ditulis dengan penuh canda, kata-kata yang lucu dan terkadang terdengar norak dan canggung di telinga. Sebab saya ingin menghibur, agar setiap pembaca dapat tertawa di samping keseriausannya mengolah semua pesan yang tersirat dalam isi novel. Bukan hanya itu saja isinya, tokoh utama juga meneruskan ceritanya dengan Ivan dengan lamunan. Dalam lamunan tokoh utama ia setelah di kampung halaman, ia mendirikan sekolah gratis untuk buta huruf. Dan sampai ia bekerja di sebuah instansi pemerintahan, kemudian ia kembali lagi ke Bandung untuk mencari impiannya. Ending dari novel ini sengaja saya buat menggantung, agar pembaca yang meneruskan kisahnya… Pesan yang ingin saya sampaikan dalam novel ini yaitu:  Sebuah kisah perjalanan. Disana saya ingin sekali menggambarkan bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan dan penuh pencarian. Pencarian didunia ini tak lain adalah pencarian kepuasan. Sebab, kepuasan adalah tingkat teratas dari semua level pencarian. Adakah seseorang memperoleh kepuasan? (sudah punya motor ingin mobil, punya istri satu pingin dua dan sebagainya), dan disetiap pencarian tak luput dari sebuah perjalanan baik itu perjalanan sebenarnya atau hanya perjalanan pikiran.  Saya juga ingin menyoroti masalah lapangan pekerjaan dan pengangguran di Negara kita yang tercinta ini. Ada satu anekdot “Yang ahli dan bahkan sarjana saja pengangguran apa lagi tidak sekolah dan tak ahli” lapangan pekerjaan di Indonesia memangsungguh sulit. Dan bahkan tingkat pengangguran semakin hari semakin mertambah.  Pendidikan gratis buta huruf. Saya ingin menyinggung tentang pemerataan pendidikan di Indonesia. Sebab banyak daerah terpencil di Indonesia masih belum tahu huruf alias buta huruf. Contoh di wilayah Papua berapa persen orang yang dapat membaca dan menulis?, lalu di wilayah Jambi ada yang dinamakan Suku Anak Dalam (Kubu), nah suku ini bisa dikatakan, orang yang tak terjamah oleh huruf. Masih banyak sekali penduduk Indonesia yang tak dapat membaca dan menulis sebenarnya.  Tokoh utama kembali lagi kekampung dan setelah itu kembali lagi ke Bandung. Itu adalah pesan yang sangat dasar, bahwasanya kehidupan adalah sebuah siklus waktu. Dimana ada kelahiran ada pula kematian, dimana ada kejayaan juga ada keterpurukan.